EBuzz – PT Pemeringkat Efek Indonesia, melaporkan adanya penurunan pada aktivitas penerbitan instrumen surat utang korporasi sepanjang paruh pertama tahun anggaran 2026. Catatan Pefindo, nilai emisi surat utang sektor swasta dan badan usaha milik negara mengalami penyusutan jika disandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Direktur Pemeringkatan PT Pemeringkat Efek Indonesia, Hendro Utomo, memaparkan bahwa nilai penerbitan surat utang korporasi pada periode Januari hingga Juni 2026 terkontraksi sebesar 3,91% secara tahunan menjadi Rupiah 87,35 triliun. Sebagai pembanding, akumulasi penerbitan instrumen pendapatan tetap pada semester pertama tahun 2025 mampu mencapai angka Rupiah 90,90 triliun.

Dinamika penurunan emisi ini sejalan dengan pergeseran rasio penerbitan surat utang terhadap nilai instrumen yang jatuh tempo (issuance-to-maturity ratio) pada tahun berjalan, yang tercatat melonjak ke level 158,2 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan rasio paruh pertama tahun 2025 sebesar 140,3%.
”Di tahun 2026, penerbitan yang tinggi itu tercatat di bulan Februari dan Maret 2026 dibandingkan bulan-bulan lainnya. Ini mungkin lebih mengacu kepada kondisi pasar. Mungkin pada bulan-bulan tersebut memang ada momentum yang baik bagi emiten untuk menerbitkan surat hutang,” katanya dalam Press Confrence secara daring, Kamis (8/7/2026). (9/7).
Tren Penerbitan Surat Utang Turun

Ia menjelaskan, aktivitas penghimpunan dana (fundraising) melalui pasar surat utang biasanya mengalami lonjakan volume pada bulan Juni setiap tahunnya, yang dipicu oleh tenggat waktu penggunaan laporan keuangan audit akhir tahun. Pada Juni 2025 misalnya, nilai emisi sempat menyentuh Rupiah 30,95 triliun.
Namun, pada tahun 2026 terjadi pergeseran anomali musiman di mana puncak emisi justru terkonsentrasi pada bulan Februari sebesar Rupiah 29,10 triliun dan bulan Maret sebesar Rupiah 23,90 triliun, sementara bulan Juni hanya membukukan nilai emisi Rupiah 9,25 triliun.
”Dan mungkin juga dari sisi kebutuhan dari emiten untuk fundraising itu mungkin lebih aktif di bulan-bulan tersebut ya dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Memang trennya sebenarnya lebih banyak itu biasanya di bulan Juni karena biasanya emiten itu menggunakan basis laporan audit Desember 2025,” jelas Hendro.
Lebih lanjut Hendro mengungkapkan, berdasarkan status kepemilikan kelembagaan, perusahaan swasta mendominasi penyerapan pasar dengan total penerbitan instrumen senilai Rupiah 62,9 triliun, sedangkan institusi Badan Usaha Milik Negara tercatat hanya menerbitkan surat utang senilai Rupiah 16,2 triliun.

”Dan jika dihitung dari sisi jenis surat utangnya, terlihat untuk baik BUMN maupun non-BUMN itu didominasi oleh jenis surat hutang obligasi. Kemudian ada sukuk juga cukup besar di Rp4 triliun untuk BUMN dan Rp16,2 triliun untuk non-BUMN,” tambahnya.
PT Pemeringkat Efek Indonesia juga mengidentifikasi adanya pergeseran fundamental pada tujuan alokasi penggunaan dana hasil emisi (use of proceeds). Pos pendanaan yang ditujukan untuk keperluan investasi jangka panjang mencatatkan pertumbuhan signifikan menjadi Rupiah 19,48 triliun, naik tajam dibandingkan dengan realisasi periode yang sama tahun 2025 yang hanya bernilai Rupiah 3,14 triliun.
Baca Juga : Kena CreditWatch Negatif, PEFINDO Turunkan Peringkat Adhi Commuter Properti (ADCP)
Sebaliknya, kebutuhan korporasi untuk alokasi modal kerja operasional mengalami penyusutan menjadi Rupiah 44,77 triliun dari posisi sebelumnya sebesar Rupiah 56,26 triliun pada tahun 2025. Pemicu penurunan juga terekam pada pos pendanaan untuk kebutuhan pembayaran kembali utang berjalan (refinancing) yang mengalami tren penurunan menjadi sebesar Rupiah 23,10 triliun pada paruh pertama tahun ini.

