EBuzz-Berinvestasi, entah di saham, kripto, hingga komoditas harus dilakukan sejak muda. Sebab, ada banyak manfaat yang bisa dipetik dari strategi ini, mulai dari percepatan pencapaian kebebasan finansial hingga melawan ancaman inflasi yang menggerus pendapatan.
Di saham, investor bisa mendapatkan investasi yang menggiurkan. Sebagai contoh, harga IPO saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tahun 2000 mencapai Rp1.400. Nilai investasi 10 lot saham BBCA kala itu mencapai Rp1,4 juta.
Berkaca pada harga sekarang dengan memperhitungkan stock split tahun 2001 dan 2021, capital gain saham BBCA sangat besar, mencapai 3.989%. Contoh lainnya, capita cain saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sejak IPO tahun 2023 hingga sekarang mencapai 296% alias 98% per tahun.
Return dua saham itu sudah jauh melampaui rata-rata inflasi 10 tahun sebesar 2,8% per tahun, bahkan saat mencapai puncaknya pada 2022 sebesar 4,21%. Investasi aset kripto juga menggiurkan. Sebagai ilustrasi, harga Bitcoin pada 2010 hanya Rp73 dan sekarang sudah menyentuh Rp1,1 miliar per koin.
Return investasi komoditas, seperti XAUUSD, juga tak kalah besar asalkan paham risiko. Sudah menjadi khitah transaksi futures memberikan cuan besar yang sebanding dengan risiko.
Sejalan dengan itu, literasi keuangan di kalangan generasi muda, terutama mahasiswa harus digencarkan. Sebab, faktanya, literasi keuangan generasi penerus ini masih rendah. Akibatnya, banyak generasi muda yang bukannya berinvestasi, tapi malah terjerat judi online (judol).
Sejak dini, generasi muda harus belajar investasi. Dengan begini, mereka bisa terhindar dari jeratan judol dan mulai mengenal, bahkan mencoba investasi di berbagai instrumen legal.
Demikian benang merah diskusi Literasi Keuangan Mahasiswa bertajuk Menangkap Peluang investasi Saham, Kripto, dan Komoditas yang digelar Himpunan Pemuda dan Mahasiswa Nagekeo (Himapen) di Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Hadir sebagai pembicara praktisi pasar modal global Vier Abdul Jamal, Komisaris PT Aldicitra Sekuritas dan asesor profesi pasar modal B. Hari Mantoro, Presiden Direktur Pintu Andy Putra, dan Direktur Utama PT Smartin Advisor System (SAS) Odang Supriatna. Diskus ini dipandu wartawan senior Edo Rusyanto.
Vier Abdul Jamal, menuturkan, belajar investasi perlu dilakukan sejak muda. Sebab, waktu adalah aset terbesar yang tidak bisa dibeli kembali. “Semakin diri seorang mulai berinvestasi, makin besar efek pertumbuhan yang bisa didapat di masa depan,” kata dia.
Dia menegaskan, ada beberapa manfaat yang bisa dipetik dari investasi di usia muda. Pertama, kebebasan finansial bisa leih cepat dibanding yang baru mulai di usia matang. Kedua, keuntungan investasi akan terus berkembang dari waktu ke waktu. Intinya, makin Panjang waktu investasi, hasil akhirnya bisa tumbuh besar, meski modal awal kecil.
Ketiga, melatih mindset jangka panjang. Belajar investasi membuat orang lebih disiplin, tidak konsumtif, berpikir strategis, dan memahami risiko dan peluang. Keempat, melawan inflasi. Prinsipnya, nilai uang terus turun tiap tahun karena inflasi. Artinya, jika uang hanya disimpan tanpa berkembang, daya beli pemilik melemah.
Kelima, memiliki kesempatan untuk belajar dari kesalahan. Intinya, kesalahan kecl hari ini bisa menjadi pengalaman berharga untuk masa depan.
Keenam, dia menerangkan, bisa membangun aset produktif lebih awal. Prinsipnya, aset produktif bekerja untuk kita, menghasilkan uang bahkan saat tidur.
Dia menambahkan, ada perbedaan besar budaya investasi di Indonesia, Amerika Serikat (AS), dan Indonesia. Di AS dan Eropa, investasi dinggap kebutuhan hidup, bukan pilihan. Banyak masyaakat muda mulai berinvestasi sejak usia 20-an. Mereka fokus pada pertumbuhan kekayaan 10-30 tahun.
Di AS, dia menuturkan, investor memahami bahwa volatilitas bukan berarti risiko. Mereka siap melihat portofolio turun 20-30%, selama fundamental tetap baik.
Selanjutnya, di AS dan Eropa, dia mengungkapkan, prinsip umum investasi adalah compounding, reinvestasi dividen, dollar cost averaging, dan alokasi aset. “Targetnya menjadi kaya perlahan namun pasti,” ungkap.
Sementara itu, di Indonesia, dia menutukan, masyarakat banyak fokus pada tabungan dan deposito. Investasi sering dianggap untuk orang kaya. Selain itu, banyak investor mencari keuntungan cepat. Selain itu, orientasi jangka pendek measih dominan.
“Di Indonesia, penurunan kecil sering memicu kepanikan. Banyak investor baru menjual saat harga turun dan membeli saat harga naik,” kata dia.
Dia menyatakan, di Indonesia, investor tergiur pada skema cepat kaya, trading harian, dan spekulasi tinggi. Banyak investor berorientasi jangka pendek. Padahal, dia menuturkan, budaya investasi modern terus berkembang. Sayangnya, tingkat literasi dan pasar modal masih lebih rendah dibanding negara-negara barat.
Bagi Vier, investasi bukan menjadi kaya dalam semalam, tapi untuk merceka secara finansial di masa depan. Prinsipnya, mulai dari kecil, konsisten, dan berpikir jangka panjang.
Dia meminta generasi muda untuk meninggalkan jauh judol dan mulai berinvestasi. Sebab, judol merupakan aksi spekulatif yang tidak menghasilkan kepemiilikan aset produktif dan secara matematis dirancang memberi keuntungan kepada operator. Adaun investasi, seperti saham, adalah aktivitas kepmilikan bisnis yang memiliki risiko nyata dan transparan.
Selain saham, dia menyatakan, ada beberapa instumen investasi yang bisa digarap generasi muda, mulai dari komoditas, seperti XAUUSD atau USOIL, hingga aset kripto.
Prospek Kripto dan Saham
Senada, Andy Putra menyarankan para mahasiswa untuk segera memulai investasi legal, jangan terjebak judol. Lebih baik tempatkan dana di instrumen legal, mulai dari saham hingga aset kripto.
Dia menegaskan, prospek investasi kripto masih menjanjikan. Sebagai ilustrasi, harga Bitcoin (BTC) pada 2010 hanya Rp73, sedangkan saat ini sudah Rp1,1 miliar. “Artinya, orang yang masih memegang BTC sejak 2010 pasti dapat jackpot,” ujar dia.
Apalagi, kata dia, kripto saat ini sudah diregulasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak 2025. Transaksi ini bebas PPN ketika membeli dan hanya dikenakan PPN final saat menjual.
Dia menyatakan, kripto adalah aset keuangan favorit generasi muda. Berdasarkan survei, 60% investor kripto berusia 18-34 thun. Anak muda, kat adia, suka kripto karena dinamis, antara lain transaksi bisa 24 jam selama seminggu penuh. Artinya, pasar kripto tidak pernah tidur. Modal kripto juga tidak besar, minimal Rp11 ribu, pas untuk anak muda.
Ke depan, dia menyatakan, kripto adalah masa depan keuangan dunia. Sebagai contoh, AS sudah mendorong stable coin untuk memperkuat dolar. Kripto juga sudah menjamah bisnis.
“Sebagai contoh, proyek properti sudah bisa ditokenisasi. Ini membuka jalan investor kripto menjadi semacam pemegang saham proyek,” kata dia.
Transaksi kripto di Indonesia, kata dia, juga cukup besar. Tahun lalu, nilainya mencapai Rp480 triliun.
Hari Mantoro menerangkan, investasi harus dilakukan sedini mungkin. Sebab, dana kas akan kena dampak inflasi. Sebaliknya, investasi mempertahankan daya beli, imbal hasil lebih tinggi daripada menabung.
Dia menyatakan, dampak nyata dari penurunan nilai mata uang ini sangat terasa pada harga barang pokok dan tersier di sekitar kita. Sebagai contoh, pada 1991, sebuah mobil Toyota Kijang Super Chassis dapat dibawa pulang dengan harga Rp 24,5 juta saja. Namun, 34 tahun kemudian, tepatnya pada 2026 ini, harga tipe penerusnya, Innova Zenix, telah melambung hingga Rp 438 juta, mengalami kenaikan fantastis sebesar 17,8 kali lipat.
“Oleh sebab itu, untuk mempertahankan daya beli, generasi diimbau untuk segera beralih dari budaya menabung (saving) ke budaya berinvestasi (investing),” jelas Hari.
Pada titik ini, dia menyatakan, investasi pada emiten berfundamental kuat terbukti mampu menghasilkan imbal hasil besar. Contohnya di saham BBCA dan BREN.
Odang Supriatna menyatakan, SAS ingin mendorong distributor agar naik level menjadi professional. Salah satunya membantu mahasiswa menghadapi masa depan keuangan yang lebih baik.
“Visi kami memberikan inspirasi pada mahasiswa yang ingin menjadi coder/programmer EA & AI Trading, influencer keuangan, day trading professional, dan smart investor,” kata dia.
Dukungan Korporasi
Di sisi lain, korporasi Indonesia terus mendukung agenda literasi keuangan, baik melalui edukasi hingga menyediakan solusi keamanan. Sejalan dengan itu, Patrick Dannacher, president director PT ITSEC Asia Tbk menyatakan, di sektor finansial, peran perseroan bukan sekadar menyediakan produk keamanan siber, tetapi membantu membangun ekosistem investasi digital yang lebih aman dan terpercaya.
Perseroan, kata dia, bekerja sama dengan berbagai institusi keuangan, termasuk perbankan, perusahaan pembiayaan, fintech, perusahaan sekuritas, penyedia layanan pembayaran digital dan berbagai organisasi lainnya untuk melindungi sistem, data dan layanan yang digunakan oleh jutaan masyarakat Indonesia.
Bagi ITSEC Indonesia, dia menuturkan, mendukung dunia investasi berarti membantu menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan digital. Ketika platform investasi mampu melindungi data, transaksi dan aset pengguna secara konsisten, masyarakat akan semakin percaya untuk berinvestasi secara digital.
“Pada akhirnya, keamanan siber tidak hanya melindungi sistem, tetapi juga menjaga kepercayaan investor dan mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia,” kata dia.
Dalam mendukung kebutuhan tersebut, dia menyatakan, ITSEC Asia menyediakan sejumlah layanan, seperti Security Operations Center (SOC) 24/7, Managed Detection and Response (MDR), penetration testing, vulnerability assessment, cloud security, application security, digital forensics dan incident response, threat intelligence, Virtual Chief Information Security Officer (vCISO), governance, risk and compliance (GRC) serta berbagai layanan konsultasi keamanan siber.
“Kami juga terus mengembangkan solusi berbasis AI seperti Bronyx.ai, platform autonomous penetration testing yang membantu organisasi menemukan dan memprioritaskan kerentanan dengan lebih cepat sehingga potensi risiko dapat ditangani sebelum dimanfaatkan oleh pelaku serangan.
Pada bagian lain, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) proaktif dalam rangka memperkuat literasi keuangan masyarakat Tanah Air. Diharapkan lebih banyak masyarakat aktif menggunakan berbagai layanan jasa perbankan secara bijak.
Adapun langkah BNI mendukung penguatan literasi keuangan masyarakat dilakukan dengan mendukung sejumlah kegiatan, termasuk diskusi yang digelar Himapen.
Direktur Human Capital & Compliance BNI Mucharo menuturkan, BNI menyadari bahwa literasi keuangan adalah fondasi yang kuat untuk kesejahteraan finansial masyarakat. Hasil survei OJK 2022 menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan Indonesia masih berada di bawah 50%. Namun, berita baiknya adalah Indonesia telah mencatat peningkatan signifikan dari 2019.
Mucharom menambahkan, data ini telah memberikan gambaran yang jelas tentang area di mana seluruh pihak perlu fokus untuk memperbaiki literasi keuangan.

