Potensi Arus Keluar Dana Asing US$11 Miliar, Analis Ungkap Efek MSCI

PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai tekanan terhadap pasar saham domestik masih berpotensi berlanjut di tengah ketidakpastian terkait status Indonesia.

Potensi Arus Keluar Dana Asing US$11 Miliar, Analis Ungkap Efek MSCI
Transaksi IHSG. Dok : Istimewa
Bacakan Artikel

EBuzz - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai tekanan terhadap pasar saham domestik masih berpotensi berlanjut di tengah ketidakpastian terkait status Indonesia dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Risiko reklasifikasi Indonesia menjadi Standalone Market dinilai dapat memengaruhi arus modal asing, pergerakan harga saham, serta valuasi pasar dalam beberapa waktu ke depan.

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Wilbert Arifin, menempatkan reklasifikasi Indonesia menjadi Standalone Market sebagai skenario dasar. Penilaian ini mempertimbangkan posisi default yang secara eksplisit dinyatakan MSCI, perkembangan penegakan hukum terhadap praktik perdagangan terkoordinasi yang dinilai masih tertinggal dibandingkan Turki, serta preseden historis ketika 10 dari 12 konsultasi terkait penurunan klasifikasi pasar yang dilakukan MSCI dalam sekitar 20 tahun terakhir berakhir dengan reklasifikasi.

Menurut Wilbert, penegakan hukum terhadap praktik coordinated trading menjadi salah satu faktor paling menentukan dalam perkembangan status Indonesia di MSCI.

 

"Penegakan hukum perlu dilakukan secara masif dan menyeluruh. Perkembangan penanganan praktik tersebut serta dampaknya terhadap kondisi pasar akan menjadi hal penting yang perlu dicermati dalam melihat kemungkinan perubahan keputusan MSCI," jelas Wilbert dalam keterangannya, Rabu (4/11/2026).

Wilbert menyampaikan, Potensi reklasifikasi Indonesia menjadi Standalone Market dapat menempatkan sekitar US$8-11 miliar dana asing dalam risiko, termasuk sekitar USD3 miliar dari potensi arus keluar pasif. Risiko ini terutama terkonsentrasi pada sembilan saham kategori MSCI Standard.

Investor Harus Cermat

Berdasarkan preseden historis pasar yang mengalami penurunan klasifikasi, Mirae Asset memperkirakan masih terdapat potensi tekanan lanjutan sekitar 20% dalam denominasi dolar AS hingga keputusan MSCI pada Juni 2027. Namun, proyeksi tersebut merupakan skenario berbasis pengalaman historis, dengan besaran penurunan yang bervariasi antarnegara.

"Dari sisi valuasi, IHSG saat ini diperdagangkan pada rasio forward price-to-earnings (P/E) sekitar 7,3 kali dan price-to-book value (P/BV) 1,36 kali. Wilbert menilai penurunan valuasi tersebut lebih mencerminkan proses de-rating akibat tekanan arus dana. Meski demikian, potensi revisi estimasi laba perusahaan tetap perlu dicermati, terutama pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar yang memiliki ekspektasi pertumbuhan laba relatif tinggi," ucap dia.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, dalam menyikapi kondisi pasar yang fluktuatif, para investor diminta untuk mengambil sikap wait and see dan mempersiapkan kas untuk ke depannya.

"Investor bisa menerapkan strategi wait and see sembari menjaga likuiditas, mempersiapkan kas untuk sementara waktu, dan mulai mencermati saham dengan eksposur investor asing yang relatif rendah serta memiliki potensi dividen tinggi," jelas Wilbert.

Baca Juga : Analis Sebut Volatilitas IHSG Masih Tinggi Hingga Akhir 2026

Mirae Asset menilai investor perlu mencermati perkembangan kebijakan MSCI, stabilitas nilai tukar rupiah, serta arah arus modal asing dalam menentukan strategi investasi. Di tengah ketidakpastian tersebut, pendekatan selektif dengan memperhatikan fundamental, likuiditas, dan valuasi masing-masing emiten tetap menjadi pertimbangan utama.