Analis Sebut Volatilitas IHSG Masih Tinggi Hingga Akhir 2026

Tekanan koreksi yang terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) disebabkan oleh kombinasi sejumlah sentimen pasar, mulai dari aksi penyesuaian portofolio, maraknya aksi ambil untung, hingga masih tingginya sikap menghindari risiko (risk-off) dari para investor.

Analis Sebut Volatilitas IHSG Masih Tinggi Hingga Akhir 2026
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dok : Istimewa
Bacakan Artikel

EBuzz - Tekanan koreksi yang terjadi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) disebabkan oleh kombinasi sejumlah sentimen pasar, mulai dari aksi penyesuaian portofolio, maraknya aksi ambil untung, hingga masih tingginya sikap menghindari risiko (risk-off) dari para investor.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa selama tekanan jual masih berlanjut dan IHSG belum mampu kembali menembus area psikologis 5.000 secara konsisten, maka volatilitas pergerakan indeks berpotensi tetap tinggi dalam jangka pendek hingga menengah.

"Sebaliknya, pemulihan yang disertai peningkatan volume transaksi dan akumulasi saham-saham berkapitalisasi besar dapat menjadi indikasi membaiknya kepercayaan pasar," ujar Nafan melalui keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (3/11/2026).

Hingga penutupan tahun, Nafan menilai pergerakan IHSG masih menghadapi tantangan untuk membangun momentum pemulihan secara berkelanjutan. "Pasar modal domestik dinilai membutuhkan dorongan katalis positif yang kuat, khususnya dari sisi perbaikan kepercayaan investor, stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta konsistensi pelaksanaan reformasi pasar modal," tegas dia.

Baca Juga : Jelang Demo, Sekuritas Ini Prediksi IHSG Bakal Tertekan

Secara spesifik, Nafan membeberkan lima sentimen utama yang perlu dicermati oleh para pelaku pasar. Pertama, perkembangan evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap status pasar modal Indonesia, terutama terkait kemungkinan adanya reklasifikasi dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market.

"Kedua, kebijakan regulator terkait peningkatan porsi saham publik (free float), transparansi kepemilikan saham, dan peningkatan kualitas tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance). Ketiga, potensi berlanjutnya arus modal keluar atau aksi jual bersih investor asing yang membebani saham-saham berkapitalisasi pasar besar," ungkap Nafan.

Keempat, pergerakan suku bunga global, arah kebijakan bank sentral AS (The Fed), dan dinamika nilai tukar Rupiah. Kelima, perkembangan geopolitik global serta fluktuasi harga komoditas yang berdampak langsung pada emiten sektor energi, pertambangan, dan industri pengolahan.

Melihat banyaknya dinamika tersebut, Nafan memproyeksikan volatilitas IHSG masih akan relatif tinggi hingga akhir 2026. Keberhasilan pemulihan indeks akan sangat bergantung pada efektivitas reformasi pasar modal dalam mengembalikan kepercayaan investor institusional, terutama pemodal asing.

"Investor sebaiknya tidak terburu-buru melakukan akumulasi secara agresif dan lebih mengutamakan strategi buy on weakness secara bertahap terhadap saham dengan fundamental kuat, valuasi menarik, serta likuiditas yang memadai," katanya.

Saham HSC

Mengenai penataan saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC), Nafan mengimbau investor untuk tetap selektif. Kebijakan pengeluaran saham HSC dari perhitungan IHSG tidak berarti saham tersebut tidak layak diinvestasikan atau dihentikan perdagangannya.

"Saham-saham tersebut tetap tercatat di BEI dan dapat ditransaksikan seperti biasa, tetapi pergerakan harganya tidak lagi berkontribusi terhadap perhitungan IHSG," terang Nafan.

Namun demikian, ia memberi catatan mengenai beberapa risiko intrinsik saham HSC, seperti keterbatasan free float, tingginya konsentrasi kepemilikan, likuiditas perdagangan yang terbatas, serta volatilitas harga. Selain itu, saham kategori HSC berpotensi menghadapi tantangan dalam menarik minat investor institusional yang menerapkan kebijakan investasi berbasis acuan indeks.

Baca Juga : Rebalancing MSCI, Mirae Proyeksi Outflow hingga Rp1 T

"Oleh sebab itu, investor sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan potensi capital gain, tetapi juga memperhatikan kualitas fundamental, valuasi, transparansi kepemilikan, dan prospek pertumbuhan bisnis masing-masing emiten," tutupnya.