EBuzz – PT BNI Sekuritas menangkap fenomena baru di kalangan investor ritel Indonesia yang kini mulai melirik instrumen investasi pasif dalam pengelolaan portofolio mereka. Adapun investasi pasif yang mulai dilirik yakni Exchange Traded Fund (ETF) dan Reksa Dana Indeks.

Produk-produk tersebut menawarkan diversifikasi instan dengan biaya yang relatif lebih efisien bagi para pemodal. Selain itu, produk ini dinilai semakin relevan mengingat fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dinamis dalam beberapa bulan terakhir, di mana perpaduan strategi pasif dan aktif dianggap mampu memitigasi risiko sekaligus menjaga keseimbangan aset.
Direktur Retail Markets & Technology BNI Sekuritas, Teddy Wishadi, menilai lonjakan angka tersebut merupakan sinyal positif atas meningkatnya kesadaran diversifikasi di level ritel.
Terlebih lagi, data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga November 2025 tercatat lebih dari 42 ribu investor ritel telah bertransaksi pada instrumen ETF, waran terstruktur, dan DIRE. Secara agregat, lonjakan volume transaksi pada ketiga instrumen tersebut mencapai angka fantastis, yakni sekitar 300%.
“Penggunaan strategi investasi aktif dan pasif secara bersamaan dapat membantu investor menyebar risiko di berbagai saham atau sektor, sekaligus menjaga portofolio tetap seimbang dalam kondisi pasar yang berfluktuasi,” ujar Teddy dalam keterangannya, Selasa (21/4/2026).
Fenomena ini sejatinya selaras dengan pergeseran tren di pasar global. Teddy mencontohkan pasar India, di mana survei terbaru menunjukkan 68% investor ritel di sana setidaknya memiliki satu produk pasif dalam portofolionya. Menurutnya, instrumen pasif kini mulai diperhitungkan sebagai komponen krusial portofolio modern.
Pergeseran Tren Investasi

Secara fundamental, strategi pasif menawarkan keunggulan berupa biaya rendah dengan imbal hasil mengikuti pasar (market return). Sebaliknya, strategi aktif menjanjikan potensi imbal hasil lebih tinggi (alpha), namun dibarengi dengan risiko dan volatilitas yang lebih besar.
“Bagi investor ritel, instrumen pasif sering kali dijadikan fondasi jangka panjang, sementara strategi aktif digunakan untuk menangkap peluang jangka pendek pada sektor-sektor tertentu,” katanya.
Meski instrumen pasif kian populer, Teddy menegaskan bahwa strategi aktif tetap memegang peranan penting bagi mereka yang ingin mengeksplorasi peluang pada saham individual.
“Dengan memahami karakter masing-masing strategi, investor ritel dapat lebih siap menghadapi fluktuasi IHSG dan menyesuaikan portofolio sesuai tujuan investasi,” pungkas Teddy.
Baca Juga : BNI Sekuritas: IHSG Masih Kuat, Tapi Ada Sinyal Bahaya
BNI Sekuritas menekankan bahwa kombinasi kedua strategi ini memungkinkan investor untuk tetap adaptif dalam memanfaatkan peluang pasar tanpa mengabaikan prinsip diversifikasi, menyesuaikan dengan profil risiko serta tujuan investasi masing-masing individu.

