EBuzz – Emiten investasi yang mengelola hotel RedTop, PT Arthavest Tbk (ARTA), mematok target pendapatan sebesar Rp100 miliar untuk tahun buku 2026. Guna merealisasikan target tersebut, perseroan bakal berfokus pada optimalisasi tingkat hunian kamar hotel serta memperkuat kontribusi dari segmen makanan dan minuman.
Direktur Utama ARTA, Dahnu Teguh Adrianto, menjelaskan bahwa motor utama pendapatan perseroan masih akan ditopang oleh kinerja Hotel RedTop Jakarta yang merupakan aset perhotelan inti di bawah kendali perseroan. Manajemen membidik kenaikan tingkat okupansi ke kisaran 40% hingga 50% untuk membalikkan posisi kinerja operasional yang sempat melandai.

Sebagai catatan, tingkat okupansi hotel ARTA pada tahun 2025 tercatat sebesar 37,8%, atau mengalami penurunan dibandingkan pencapaian tahun 2024 yang sempat menyentuh level 46,2%.
“Untuk tahun 2026, kami menargetkan occupancy sekitar 40% untuk room saja, sedangkan target pendapatan sebesar Rp100 miliar,” kata Dahnu dalam keterangannya, Senin (22/6/2026).
Guna mengompensasi tekanan pada segmen MICE (meeting, incentive, convention, exhibition) akibat kebijakan efisiensi korporasi, ARTA mengalihkan fokus strategi pemasaran secara agresif ke segmen ritel dan konsumen individu/swasta. Emiten akan memanfaatkan optimalisasi kanal digital serta media sosial untuk menjaring pasar staycation.
“Mengingat lokasi hotel milik perseroan berada di pusat Kota Jakarta, strategi ke depan akan mengarah ke konsumen swasta dalam bentuk staycation dan promosi melalui media sosial seperti TikTok, Instagram serta voucher,” ujarnya.
Strategi Penetrasi Ritel

Dari sisi pengembangan bisnis korporasi, ARTA menegaskan tidak mengalokasikan anggaran untuk ekspansi fisik hotel maupun akuisisi aset properti baru dalam jangka pendek. Sebagai perusahaan holding investasi, perseroan memilih untuk mengarahkan likuiditasnya pada penempatan instrumen saham di pasar modal.
“Sebagai perusahaan investasi, perseroan tidak memiliki rencana akuisisi properti. Ke depannya perseroan berencana membeli saham-saham perusahaan lain termasuk perusahaan publik,” ucap Dahnu.
Sementara itu, kendati masih membukukan rugi bersih, manajemen memastikan fundamental likuiditas perusahaan tidak terganggu. ARTA menegaskan tidak akan menempuh langkah efisiensi berupa pengurangan karyawan (layoff) karena posisi arus kas operasional perseroan diklaim masih solid dan terjaga positif.
Baca Juga : Jatuh Tempo Besok, BSDE Siapkan Rp16,5 Miliar Buat Bayar Kupon Obligasi dan Sukuk
Apabila terjadi risiko eksternal yang menghambat tercapainya target pendapatan 2026, seperti eskalasi geopolitik global, manajemen telah menyiapkan rencana kontigensi berupa penguatan penetrasi bisnis F&B komersial guna mengamankan kinerja profitabilitas.

