Transaksi Saham Sepi, Bos BEI Ungkap Bukan Efek Pidato Prabowo

EBuzz – Aktivitas perdagangan di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan tren penurunan likuiditas, di mana nilai transaksi harian rata-rata masih tertahan di level single digit triliun rupiah. Tekanan terhadap indeks harga saham gabungan juga diperberat oleh aksi lepas aset yang dilakukan oleh pemodal internasional.

Berdasarkan data pergerakan modal mingguan untuk periode 6 hingga 10 Juli 2026, investor asing membukukan nilai jual bersih (net sell) dengan akumulasi berkisar antara Rp1,31 triliun hingga Rp1,73 triliun di seluruh pasar bursa domestik.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, memaparkan bahwa, melandainya nilai transaksi harian serta keluarnya arus modal asing merupakan dampak langsung dari tingginya ketidakpastian aktivitas ekonomi di tingkat global. Salah satu faktor yang menahan laju investasi adalah kebijakan proteksionisme berupa pengenaan tarif resiprokal oleh pemerintah Amerika Serikat.

Menurut Jeffrey, kebijakan perdagangan protektif tersebut dinilai memicu sentimen negatif berkepanjangan karena berpotensi mengganggu rantai pasok dan kinerja operasional korporasi di berbagai negara mitra dagang.

“Kalau kita mengikuti sejak satu tahun lebih, keputusan tarif resiprokal yang diumumkan pemerintah Amerika itu menimbulkan ketidakpastian yang sangat tinggi atas aktivitas ekonomi yang bisa saja berdampak besar terhadap pelaku-pelaku usaha di banyak negara,” kata Jeffrey di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (13/7/2026).

Faktor Ketegangan Geopolitik

Jeffrey menambahkan, faktor makroekonomi eksternal tersebut kian kompleks akibat eksalasi konflik geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah serta kelanjutan perang antara Rusia dan Ukraina. Ketegangan geopolitik ini memicu fluktuasi tajam pada harga komoditas minyak mentah dunia, sehingga menyulitkan sektor industri dalam memproyeksikan biaya energi yang terukur untuk proses produksi.

Otoritas bursa menilai, kalkulasi atas risiko geopolitik, dinamika kebijakan tarif, serta arah kebijakan suku bunga bank sentral global (The Fed) merupakan indikator utama yang mendominasi pertimbangan rasional para pengelola dana dalam mengalokasikan portofolio investasi mereka saat ini.

“Dinamika-dinamika itu justru yang berdampak lebih langsung kepada pergerakan di pasar ketimbang hal-hal lain,” ujarnya.

Di sisi lain, otoritas bursa memberikan klarifikasi terkait adanya analisis yang mencoba mengorelasikan arus keluar modal asing (capital outflow) dengan dinamika politik domestik serta pidato pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pihak bursa menegaskan bahwa, berdasarkan rekam jejak historis sejak dekade 1980-an hingga era modern, korelasi antara aktivitas politik dalam negeri dengan keputusan investasi di pasar sekunder terus mengalami penurunan yang signifikan dari waktu ke waktu karena pasar kini bergerak jauh lebih matang.

Baca Juga : Bukan Efek dari Pidato Prabowo, OJK Ungkap Faktor Merosotnya IHSG

“Kalau kami melihat dari waktu ke waktu, korelasi antara politik dengan keputusan investasi itu semakin berkurang. Tren di Indonesia juga begitu dan itu sudah berlangsung cukup lama. Kalau itu dikait-kaitkan, saya kira tidak terlalu pas. Karena di setiap keputusan investasi tentu ada rasional ekonomi di situ dan tidak bisa dikaitkan hanya kepada satu-dua faktor,” pungkas Jeffrey.

Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini