EBuzz – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat lonjakan tajam jumlah rekening simpanan valuta asing berdenominasi dolar Amerika Serikat sepanjang paruh pertama tahun ini, sinyal yang menguatkan dugaan pergeseran preferensi sebagian nasabah menuju aset dalam mata uang keras di tengah dinamika nilai tukar.
Data LPS per Juni 2026 menunjukkan jumlah rekening dolar AS mencapai 16,53 juta, setara 2,4 persen dari total rekening simpanan nasional. Angka itu melonjak 85,3 persen secara month-to-month dan melompat 185,5 persen secara year-on-year, laju pertumbuhan yang jauh melampaui segmen simpanan rupiah.
Sebagai pembanding, jumlah rekening rupiah tercatat 680,42 juta pada periode yang sama, hanya tumbuh 1,1 persen month-to-month dan 7,8 persen year-on-year. Meski dominasi rupiah dari sisi jumlah rekening tetap tak tergoyahkan, laju ekspansi rekening valas yang jauh lebih tinggi menjadi sorotan tersendiri bagi pelaku pasar.
Baca Juga: NIM BBCA di Semester I-2026, Analis Beri Rekomendasi Add Dengan Target Rp 8.000
Namun demikian, lonjakan jumlah rekening tersebut belum diikuti pertumbuhan setara dari sisi nilai simpanan. Nilai simpanan valas per pertengahan tahun ini tercatat Rp 1.741,46 triliun, hanya naik 1,6 persen month-to-month dan 19,5 persen year-on-year, jauh lebih moderat dibandingkan laju pertumbuhan jumlah rekeningnya.
Di sisi lain, nilai simpanan rupiah mencapai Rp 8.567,87 triliun, turun 0,5 persen month-to-month dan terkoreksi 0,8 persen secara year-to-date. Meski demikian, secara tahunan nilai simpanan rupiah masih mencatatkan pertumbuhan 8,2 persen.
Secara agregat, total nilai simpanan perbankan nasional hingga pertengahan tahun ini mencapai Rp 10.309,32 triliun, terkontraksi tipis 0,2 persen month-to-month namun tetap tumbuh 10 persen secara year-on-year.
Baca Juga BEI Gembok Saham Kian Santang (RGAS), Ini Penyebabnya
Deposito Masih Jadi Instrumen Favorit
Berdasarkan jenis produk, time deposit atau deposito tetap mendominasi struktur simpanan dengan nilai Rp 3.670,23 triliun, setara 35,6 persen dari total simpanan nasional. Instrumen ini tumbuh 2 persen month-to-month dan 11,8 persen year-on-year, mengonfirmasi preferensi nasabah terhadap instrumen simpanan berjangka di tengah ekspektasi suku bunga.
Di posisi kedua, giro atau current account tercatat Rp 3.357,77 triliun, atau 32,6 persen dari total simpanan. Instrumen ini justru mencatatkan kontraksi 4,4 persen month-to-month, meski masih mencatatkan pertumbuhan 9,6 persen secara year-on-year.
Sementara itu, tabungan atau savings account menyumbang Rp 3.179,26 triliun atau 30,8 persen dari total simpanan, dengan pertumbuhan 1 persen month-to-month dan 8,2 persen year-on-year.

