EBuzz – Emiten energi PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) melaporkan kinerja keuangan yang solid pada Q1-2026. Pada periode ini, TBS berhasil mencatatkan akselerasi pertumbuhan pendapatan konsolidasi sebesar 20,5% dan peningkatan laba kotor konsolidasi sebesar 46,7% secara tahunan (YoY).
Efisiensi operasional tercermin dari posisi arus kas operasional yang berbalik positif menjadi US$9,9 juta dari sebelumnya negatif US$2,9 juta pada 2025. Secara keseluruhan, total kerugian periode berjalan berhasil dipangkas lebih dari 83% secara tahunan menjadi US$9,5 juta.
Direktur TBS, Juli Oktarina, menyatakan bahwa hasil kuartal pertama ini merupakan validasi atas ketepatan arah transformasi perusahaan. Menurutnya, fase transisi ini akan berdampak sementara pada laba kami, tapi transisi ini diperlukan sebagai fondasi agar TBS menjadi platform bisnis berkelanjutan dengan margin tinggi,
“Hasil yang kami capai di kuartal pertama ini merupakan validasi atas ketepatan arah transformasi perusahaan. Langkah besar akuisisi dan divestasi di tahun 2025 merupakan bentuk penataan ulang portofolio strategis yang terencana dan krusial bagi masa depan Perseroan” ujar Juli dalam keterangan resminya, Kamis (30/4/2026).
Pengelolaan Bisnis Limbah

Menurut Juli, lini bisnis pengelolaan limbah kini resmi menjadi tulang punggung perusahaan dengan menyumbang 60% dari total pendapatan konsolidasi dan 93% dari total EBITDA Disesuaikan.
Pendapatan segmen ini melonjak tajam 447,69% atau 5,5 lipat menjadi US$51,9 juta dari sebelumnya US$9,4 juta. Bisnis ini dinilai memiliki resiliensi tinggi terhadap fluktuasi pasar global dengan arus pendapatan yang stabil dan berulang.
Sedangkan, untuk segmen energi terbarukan, PLTM (Mini Hydro) 6MW telah beroperasi penuh dan menyumbang pendapatan US$3,2 juta, sementara proyek PLTS Terapung 46MWp ditargetkan beroperasi pada kuartal keempat 2026.
“Segmen kendaraan listrik melalui Electrum juga menunjukkan tren kenaikan kuat dengan pendapatan tumbuh 137,82% menjadi US$3,2 juta, didukung peningkatan unit motor listrik yang beroperasi dari 5.100 unit menjadi 9.082 unit,” pungkasnya.
Baca Juga : Intip Rencana TBS Energi (TOBA) Gunakan Kas Internal Rp448 Miliar untuk Buyback
Di segmen batu bara, TBS tetap menjaga efisiensi dengan menekan biaya operasional tunai sebesar 5,8% menjadi US$42,5 per ton, sehingga margin laba kotor pertambangan tetap stabil di angka 15,8%.

“Capaian pada Q1 2026 ini merupakan bagian dari peta jalan TBS untuk menjadi perusahaan yang lebih berkelanjutan. Dengan posisi kas sebesar US$103,3 juta dan manajemen modal kerja yang disiplin, Perseroan memiliki kapasitas likuiditas yang cukup untuk mendukung rencana pertumbuhan dan target netralitas karbon pada tahun 2030,” tutup Juli.

