EBuzz – Dua pemeringkat global yakni Moody’s dan S&P Global Ratings, memberikan penilaian kritis terhadap rencana Pemerintah Indonesia untuk melakukan pengoperasian terpusat atas tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam. Kedua institusi finansial global tersebut menilai kebijakan tersebut dapat memicu ketidakpastian bagi iklim investasi.
Moody’s dalam laporannya menyatakan bahwa, rencana pemerintah Indonesia untuk melakukan sentralisasi ekspor komoditas sebagai langkah yang bersifat negatif bagi sektor pertambangan. Lembaga tersebut juga menggarisbawahi bahwa penataan satu pintu ini dapat meningkatkan risiko terjadinya distorsi pasar.
Lebih lanjut, lembaga pemeringkat itu mengatakan, langkah sentralisasi tersebut memang memiliki potensi dampak positif dalam mendukung arus masuk devisa hasil ekspor (DHE) serta memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
“Kendati demikian, mekanisme ini diperkirakan dapat berdampak kurang menguntungkan pada sentimen investor asing terhadap arah kebijakan ekonomi secara lebih luas,” ucap manajemen, Kamis (21/5/2026). (22/5).
Risiko Penurunan Peringkat Kredit

Selain itu, S&P Global Ratings turut merilis pernyataan senada terkait evaluasi dampak makroekonomi dari pengetatan tata niaga tersebut. S&P Global Ratings menyatakan bahwa rencana Indonesia untuk mengendalikan pengiriman komoditas secara terpusat berisiko merugikan kinerja ekspor nasional, menekan pos pendapatan pemerintah, dan memberikan dampak negatif pada struktur neraca pembayaran negara.
Baca Juga : Dirikan Danantara Sumber Daya Indonesia, Rosan : Tata Niaga Ekspor SDA Diperbaiki
Institusi pemeringkat yang berbasis di Amerika Serikat tersebut menegaskan bahwa faktor-faktor risiko eksternal dan fiskal ini menciptakan ketidakpastian penurunan (downside uncertainty) yang lebih besar terhadap penilaian peringkat kredit (sovereign credit rating) S&P untuk Indonesia ke depan.

