EBuzz – Emiten produsen beras, PT Wahana Inti Makmur Tbk (NASI) membidik angka penjualan sebesar Rp66 miliar dengan target perolehan laba bersih senilai Rp660 juta, atau setara dengan margin sekitar 1 persen dari total target top-line sepanjang tahun ini.
Target pembalikan kinerja tersebut ditetapkan setelah perseroan melewati tahun buku 2025 dengan realisasi penjualan Rp55,62 miliar dan mencatatkan rugi bersih sebesar Rp2,747 miliar. Memasuki Q1-2026, NASI mulai membukukan pemulihan bertahap dengan mencatatkan penjualan sebesar Rp8,85 miliar.
Corporate Secretary NASI, Atikah Salsa Batubara mengatakan bahwa, guna merealisasikan target pertumbuhan tersebut, manajemen NASI memperkuat volume penjualan pada segmen beras umum, baik kelas premium maupun medium, yang disinergikan dengan program pemerintah dalam tata kelola perberasan nasional.
“Perseroan akan terus melakukan inovasi produk, penguatan pemasaran, dan pengembangan jaringan distribusi guna meningkatkan pangsa pasar pada segmen beras khusus dan beras sehat,” tulis Atikah dalam keterbukaan informasi, Selasa (2/6/2026).
Ekspansi Bisnis NASI

Atikah menambahkan, saat ini perseroan tengah menjajaki ekspansi bisnis ke komoditas pangan baru di luar sektor beras. Dari sisi penetrasi pasar, perseroan melakukan ekspansi yang lebih masif ke segmen pasar tradisional serta sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka), di samping mengoptimalkan pertumbuhan di pasar modern.
“Manajemen mengidentifikasi sejumlah risiko industri yang berpotensi menahan laju pertumbuhan, antara lain fluktuasi harga bahan baku beras, kenaikan biaya transportasi operasional, serta tantangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM),” ucapnya.
Baca Juga : Prospek Emiten GULA 2026: Kombinasi Kekuatan Fundamental dan Katalis Positif Swasembada
Sebagai langkah mitigasi, NASI memperketat pengendalian siklus pembelian dan persediaan guna menjaga stabilitas likuiditas operasional. Strategi efisiensi juga diterapkan melalui pemetaan rute pengiriman, perluasan kemitraan dengan supplier lokal, serta pelaksanaan pelatihan karyawan secara berkala untuk menekan biaya produksi.

