EBuzz – Emiten manufaktur, infrastruktur, dan energi PT Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK) menetapkan target kinerja agresif untuk tahun buku 2026 dengan membidik pendapatan senilai Rp4,1 triliun. Target tersebut, mengalami peningkatan dibandingkan dengan realisasi target tahun sebelumnya yang sempat terkoreksi di level Rp3,9 triliun.
Direktur BUKK, Didin Saepudin menjelaskan bahwa, perseroan optimistis mampu memacu pertumbuhan kinerja di tengah perlambatan ekonomi makro melalui reposisi model bisnis strategis. Untuk itu kata Didin, BUKK menggeser fokus dari sekadar penjualan produk jadi menuju penyediaan solusi pekerjaan terintegrasi di bidang Engineering, Procurement, and Construction (EPC).

Strategi operasional ini ditopang oleh pembagian lini usaha ke dalam tiga klaster utama, yakni klaster infrastruktur, klaster energi dan pertambangan, serta klaster transportasi.
“Kita tidak bicara fabrikasinya saja atau manufaktur produknya, tapi membuat satu bentuk pekerjaan yang terintegrasi mulai engineering, sampai tahapan konstruksi dan commissioning,” ujar Didin dalam Konfrensi Pers, Kamis (18/6/2026). (19/6).
Baca Juga : Pendapatan Menyusut, Emiten Keluarga Kalla BUKK Tetap Cuan Rp363 Miliar
Didin menambahkan, katalis positif utama di pasar domestik didorong oleh dibukanya kembali lelang proyek jalur transmisi kelistrikan milik PT PLN (Persero) yang sempat tertahan sepanjang periode 2024–2025.
Menurutnya, perseroan bersiap mengincar paket pengadaan menara transmisi bernilai belasan triliun rupiah di wilayah Sumatera, Jawa, hingga Indonesia Timur. “Selain itu, kinerja perseroan juga akan disokong oleh kontribusi pendapatan berulang (recurring income) dari lini bisnis energi terbarukan lewat pengoperasian PLTA Kerinci dan PLTA Poso,” terangnya.
Target Pendapatan BUKK

Sementara itu, Direktur Keuangan BUKK, Budi Hartono, menjabarkan bahwa, meskipun pendapatan tahun lalu sempat tertekan, perseroan berhasil mencatatkan kenaikan pada rasio margin laba kotor dan margin laba bersih. Untuk tahun buku 2026, emiten berkode saham BUKK ini mengincar pertumbuhan laba bersih yang signifikan melalui efisiensi operasional dan pengerjaan proyek strategis bermargin tinggi.
“Rencananya memang di tahun 2026 ini ke angka optimis untuk pekerjaan itu sekitar Rp4,1 triliun. Kemudian untuk mungkin yang terakhir, itu kira-kira di tahun 2026 itu sekitar 14,91% di angka Rp265 miliar,” jelas Budi.

Lebih lanjut Budi menegaskan, guna memitigasi risiko perlambatan pasar domestik, BUKK secara agresif memperluas penetrasi pasar ekspor di ranah internasional. Perseroan tercatat telah mengamankan sejumlah kontrak berjalan bernilai besar, antara lain kontrak senilai hampir US$ 67 juta di India untuk pasokan pumping unit minyak dan garbarata, serta kontrak senilai US$ 15 juta dengan Petroleum Development Oman (PDO) di Oman.
Baca Juga : Bukaka Teknik (BUKK) Guyur Anak Usaha Rp700 Miliar Demi Proyek PLTA PLN
“Bukaka juga telah mengantongi kontrak payung untuk sektor migas di Kuwait dan tengah berada dalam tahapan akhir tender pengadaan unit garbarata untuk Bandara Changi di Singapura,” tutupnya.

