EBuzz – Indeks Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia membaik signifikan ke level 50,2 pada Juli 2026, naik dari 46,9 pada Juni 2026. Capaian ini menandai level tertinggi sejak Februari 2026 sekaligus mengonfirmasi kembalinya sektor manufaktur ke zona ekspansif. Output produksi mengalami kenaikan setelah melemah selama empat bulan berturut-turut, meski kenaikannya masih tergolong tipis.
Defisit Neraca Dagang Menyempit, Impor Melonjak
Neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan defisit sebesar 450 juta dolar AS pada Juni 2026. Angka ini membaik dibandingkan defisit 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026. Ekspor tumbuh 8,84 persen year on year (yoy) pada Juni 2026, membaik dari kontraksi 5,73 persen yoy pada Mei 2026. Impor justru melonjak 34,27 persen yoy, naik tajam dari pertumbuhan 22,16 persen yoy pada bulan sebelumnya.
Baca Juga OJK Temui 100 Investor, Reformasi Pasar Modal Jadi Sorotan
Inflasi Melandai Berkat Panen Raya
Laju inflasi melambat menjadi 2,88 persen yoy pada Juli 2026, turun dari 3,34 persen yoy pada Juni 2026. Perlambatan ini dipicu deflasi sebesar 0,14 persen month to month (mtm) pada Juli 2026. Panen raya mendorong penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, sehingga menekan laju inflasi bulanan. Penurunan harga BBM nonsubsidi pada Agustus 2026 berpotensi mendorong inflasi bergerak lebih landai ke depan.

