Di Tengah Katalis Swasembada, Saham GULA Lanjutkan Rebound dan Naik +93,8% Tahun Ini

EBuzz-Setelah mencatat kenaikan volume transaksi yang signifikan pada perdagangan Selasa (26/5), saham PT Aman Agrindo Tbk (GULA) mencuri perhatian pelaku pasar modal. Harga saham perusahaan produsen dan perdagangan untuk komoditi gula ini sedang menguji batas atas (resistance) dan lanjutkan rebound dengan capaian kenaikan sebesar 93,8% di sepanjang tahun 2026. Tercatat pada perdagangan terakhir, harga sahamnya ditutup di harga Rp500 per lembar. Pada akhir Desember tahun 2025 lalu, GULA masih berada di kisaran harga Rp258 per lembar. Kenaikan ini menjadikan GULA sebagai salah satu saham di sektor konsumer dengan apresiasi harga saham yang agresif di tahun ini. Diketahui bahwa GULA saat ini sedang menyelaraskan berbagai langkah ekspansinya dengan agenda ketahanan pangan pemerintah, yakni program Swasembada Gula Nasional.

Rebound Berlanjut Didorong Peningkatan Volume

Pengamat Pasar Indrawijaya Rangkuti M.B.A yang menjabat sebagai Board of Director International Federation of Technical Analysts (IFTA) dan Founder ENTRY & EXIT Invst mengatakan, GULA mulai masuk dominasi pembeli sejak tanggal 20 Mei 2026, dan pada tanggal 26, kenaikan pembelian mencapai 7x lebih banyak. Indikator yang menunjukkan rata-rata pergerakan saham (Moving Average) menunjukkan posisi yang sejalan, yakni momentum beli jangka pendek, menengah hingga panjang masih terkendali oleh pasar. Posisi harga saat ini berada cukup jauh di atas garis MA20 (Rp403), MA50 (Rp354), dan MA200 (Rp347).

Penguatan ini juga dikonfirmasi oleh peningkatan signifikan di sisi volume transaksi harian GULA. Pada perdagangan Selasa (26/5) volume transaksi GULA berhasil tembus di angka 109 juta lembar saham, lebih tinggi dari rata-rata volume perdagangan di 20 hari terakhir (MA Volume) yakni di kisaran 39 juta lembar per hari. Para pelaku pasar tampak mengakumulasI saham GULA secara masif.

Walaupun pada perdagangan pekan depan (Selasa, 2 Juni) ada potensi area resistance GULA di level Rp550 dapat disentuh, investor harus tetap memperhatikan dan waspada apabila level tersebut tidak berhasil ditembus. Namun, jika level resistance tersebut berhasil dilewati, maka terbuka peluang harga bergerak ke level resistance berikutnya, yakni di area Rp650 dan Rp750. Kewaspadaan akan terjadinya koreksi juga menjadi perlu diperhatikan dengan adanya parameter dari indikator Relative Strength Index (RSI) yang berada di level 80, mengindikasikan GULA memasuki area jenuh beli (overbought). Aksi taking profit (meski sementara) rentan terjadi. Secara teknikal, area support saham emiten produsen gula ini ada di kisaran Rp422, yang berpeluang dituju jika terjadi koreksi. Waspadai area level support selanjutnya di level Rp358 dan Rp298 jika support tersebut berhasil tertembus.

Defisit Gula Nasional, Peluang Pertumbuhan GULA

Respons positif pelaku pasar terhadap prospek bisnis perseroan tampak dari pergerakan sahamnya yang menguat secara agresif di beberapa waktu terakhir. Strategi bisnis yang dijalankan oleh manajemen GULA secara spesifik menjadikan program Swasembada Gula Nasional yang dicanangkan oleh pemerintahan Prabowo menjadi prioritas utama untuk dipenuhi, tentu dalam upaya menekan ketergantungan tinggi di sisi impor.

Merujuk pada data Buku Outlook Komoditas Perkebunan Tebu yang diterbitkan oleh Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian, tantangan industri gula domestik memang masih lebar. Hingga tahun 2028, kebutuhan konsumsi gula nasional diproyeksikan mencapai 8,03 juta ton, sementara kapasitas produksi dalam negeri diperkirakan hanya mampu menyuplai sekitar 2,70 juta ton. Kesenjangan ini membuat Indonesia diproyeksikan masih harus melakukan impor hingga 5,33 juta ton gula.

Dari artikel berjudul Buku Outlook Komoditas Perkebunan Tebu 2025 yang diterbitkan oleh Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian, impor gula Indonesia hingga tahun 2028 diproyeksikan mencapai 5,33 juta ton. Di mana langkah ini merupakan output dari kebutuhan konsumsi gula yang diproyeksikan mencapai 8,03 juta ton sementara produksinya sendiri diproyeksikan ada di angka 2,70 juta ton.

Optimalisasi operasional pabrik gula merah yang rampung didirikan perseroan menjadi tenaga di sisi produksi untuk menggerakkan pertumbuhan bisnis GULA dalam berusaha menutup defisit tersebut. Sejalan, untuk tahun ini pendapatan perseroan diproyeksikan mampu sentuh angka Rp336 miliar, dengan target laba bersih sebesar Rp36,9 miliar dari efisiensi rantai pasok dan pertumbuhan yang bersifat organik.

Prospek pertumbuhan tersebut, jika disandingkan dengan momentum teknikal yang juga kuat, menjadikan GULA sebagai salah satu emiten yang menarik untuk dicermati.

Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini