BTN Pasang Badan Pertahankan Kredit 10% hingga Akhir 2026

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit pada 2026 di kisaran 8-10%, meski realisasi penyaluran kredit hingga Juni 2026 telah tumbuh di atas target tersebut.

BTN Pasang Badan Pertahankan Kredit 10% hingga Akhir 2026
Jajaran Direksi PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
Bacakan Artikel

EBuzz - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit pada 2026 di kisaran 8-10%, meski realisasi penyaluran kredit hingga Juni 2026 telah tumbuh di atas target tersebut. Hingga Juni 2026, total kredit dan pembiayaan BTN mencapai Rp418 triliun, tumbuh 11,2% secara tahunan.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan perseroan tidak melakukan revisi terhadap target pertumbuhan kredit yang telah ditetapkan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB).

"Jadi, kita enggak revisi (target kredit). Ini masih sama dengan RBB awal. Tapi, memang realisasinya (pertumbuhan kredit) melebihi dari rencana," ujar Nixon dalam Public Expose Live 2026 di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Baca Juga : Laba BTN Melonjak 39,79% Jadi Rp2,51 Triliun hingga Juli 2026

Menurut Nixon, pertumbuhan tersebut turut didorong oleh pengambilalihan portofolio kredit pensiunan dan prapensiunan milik PT Bank SMBC Indonesia Tbk dengan nilai transaksi sekitar Rp19,93 triliun.

"Kita sebenarnya mengembalikan ke RKP awal saja 8-10%. Ya kalau pun lebih mungkin 10,1 atau 10,2%. Jadi enggak akan lebih," katanya.

Kontribusi Kredit BTN

Nixon menjelaskan, kondisi sektor perumahan menjadi salah satu pertimbangan BTN dalam menetapkan target pertumbuhan kredit. Pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), khususnya pada segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), masih mengalami perlambatan.

"Kalau kita lihat pertumbuhan KPR terutama untuk segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), memang lebih slow pembangunan rumah maupun pembelian rumah. Jadi kita enggak berani membuat target melebihi tren yang terjadi di industri perumahan," jelas Nixon.

Dengan kondisi tersebut, BTN akan lebih selektif dalam menyalurkan kredit pada sisa 2026. Dari sisi pasokan, pembangunan perumahan juga masih menghadapi sejumlah kendala, termasuk persoalan perizinan di beberapa daerah.

"Apalagi sisi supply-nya juga masih pelan ya, terutama di daerah Jawa Barat. Ada beberapa persoalan perizinan dan sebagainya. Itu yang menyebabkan kami juga tetap memasang angka (kredit) 8 sampai 10%," ujar Nixon.

Direktur Treasury & International Banking BTN Venda Yuniarti menambahkan, pertumbuhan kredit hingga Juni 2026 juga ditopang oleh ekspansi kredit non-housing.

Porsi kredit non-housing tercatat sebesar 20,4% dari total kredit dan pembiayaan BTN. Perseroan menargetkan kontribusi kredit non-housing terus meningkat hingga mencapai 30% dari total kredit pada 2030.

Menurut Venda, strategi tersebut tetap menempatkan bisnis perumahan sebagai fokus utama BTN, sembari meningkatkan kontribusi segmen non-housing secara bertahap.

Segmen tersebut mencakup kredit konsumer dan korporasi, termasuk kredit pensiunan.

"Jadi, bisnis perumahan tetap menjadi bisnis utama BTN, tetapi kami juga secara bertahap memperbesar kontribusi non-housing," ujar Venda.

Baca Juga : BTN Borong Dua Penghargaan ASEAN Risk Awards 2026

Di sisi kinerja, BTN membukukan laba bersih sebesar Rp2,4 triliun pada semester I-2026, tumbuh 40,8% yoy. Pada periode yang sama, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross turun menjadi 2,99%.