Ketegangan di Selat Hormuz Diproyeksi Masih Panjang, Pertamina Didorong Genjot Diversifikasi Energi

EBuzz – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa eskalasi ketegangan geopolitik global, khususnya konflik di Selat Hormuz, diperkirakan masih akan berlangsung dalam jangka waktu yang cukup panjang. Kondisi ini berpotensi memicu volatilitas harga minyak dunia yang pada gilirannya dapat memberi tekanan pada ketahanan energi nasional.

Airlangga menyampaikan, sinyal bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran belum akan mereda dalam waktu dekat ia peroleh dari rangkaian pertemuan bilateral saat kunjungan kerja di Shanghai, China, baru-baru ini.

Dalam kesempatan tersebut, ia bertemu dengan Deputi Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan yang berperan sebagai salah satu mediator dalam upaya perdamaian. Dari hasil pertemuan itu, Airlangga menilai posisi dan ekspektasi kedua negara yang berseteru masih menunjukkan gap atau kesenjangan yang cukup lebar, sehingga titik temu negosiasi belum terlihat dalam waktu dekat.

“Kemarin di dalam pertemuan di Shanghai, saya bertemu dengan Deputy Prime Minister Pakistan, dan Menlu, dan beliau menjadi salah satu mediator, kelihatannya masih panjang. Dan kedua belah pihak, sepertinya harapan negosiasi dengan penengah, itu ekspektasinya masih agak berbeda,” ujar Airlangga dalam acara P3DN Summit di Grha Pertamina, Jakarta Pusat, Rabu (22/7/2026).

Menyikapi risiko tersebut, Airlangga menegaskan pentingnya langkah mitigasi melalui strategi diversifikasi sumber energi yang dilakukan PT Pertamina (Persero). Pasalnya, Indonesia masih memiliki tingkat ketergantungan terhadap pasokan energi yang melintasi Selat Hormuz sebesar 20%, sementara sisa kebutuhan telah dipasok dari kawasan Afrika dan Amerika Serikat.

“Oleh karena itu, bagi Pertamina menjadi penting untuk mencari sumber-sumber diversifikasi energi. Berterima kasih kepada Pertamina karena ketergantungan kita terhadap Selat Hormuz adalah 20%, dan 80% telah terdiversifikasi dari Afrika, bahkan Amerika Serikat,” beber Airlangga.

Baca Juga Pefindo Proyeksi Penerbitan Obligasi Korporasi Rp196,86 Triliun Akhir 2026

Langkah diversifikasi pasokan energi ini dinilai menjadi kunci untuk menjaga stabilitas supply energi domestik di tengah ketidakpastian geopolitik yang membayangi jalur distribusi minyak dunia, khususnya dari kawasan Timur Tengah.

Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini