EBuzz – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan surat utang korporasi sepanjang 2026 pada kisaran Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun, dengan titik tengah sebesar Rp175,77 triliun. Hingga semester I-2026, realisasi penerbitan obligasi korporasi telah mencapai Rp87,35 triliun.
Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo, Suhindarto, mengatakan, prospek tersebut didukung oleh tingginya kebutuhan refinancing atau pendanaan kembali dari emiten yang memiliki surat utang jatuh tempo pada paruh kedua tahun ini.
Selain itu, menurutnya proyeksi tersebut masih sesuai dengan estimasi yang telah disampaikan sejak awal tahun.

“Jadi, sejauh ini proyeksi dari Pefindo sejak awal tahun kemarin masih inline,” ujar Suhindarto dalam konferensi pers Pefindo secara daring, Rabu (22/7/2026).
Baca Juga : Pefindo Ungkap Penerbitan Surat Utang Korporasi Turun, Jadi Rp87,35 Triliun
Menurutnya, salah satu faktor utama yang akan menopang penerbitan obligasi korporasi pada semester II-2026 adalah tingginya kebutuhan refinancing emiten di pasar modal. Pefindo mencatat, nilai surat utang korporasi yang akan jatuh tempo pada semester II-2026 mencapai Rp107,5 triliun, hampir dua kali lipat dibandingkan nilai jatuh tempo pada semester I-2026 yang sekitar Rp55 triliun.
“Kalau akhirnya surat utang yang jatuh tempo masih tinggi ini bisa mendorong penerbitan surat utang korporasi di semester kedua, seiring dengan kebutuhan refinancing untuk membiayai kembali surat utang yang jatuh tempo ini juga masih tinggi,” katanya.
Iklim Penerbitan Obligasi Terjaga

Suhindarto menambahkan, selain faktor refinancing, Pefindo juga memperkirakan kondisi ekonomi domestik tetap stabil pada semester II-2026. Stabilitas tersebut ditopang oleh kebijakan fiskal yang masih ekspansif serta kebijakan moneter yang diarahkan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
“Kondisi tersebut dinilai mendukung iklim penerbitan obligasi korporasi, ditambah minat investor terhadap instrumen pendapatan tetap yang masih terjaga,” imbuh Suhindarto.
Suhindarto menambahkan, di tengah tekanan yang masih membayangi pasar saham sepanjang tahun ini, obligasi korporasi dinilai tetap menawarkan imbal hasil yang menarik sehingga berpotensi menjadi salah satu alternatif investasi bagi investor.
Meski demikian, Pefindo mengingatkan masih terdapat sejumlah faktor yang berpotensi menjadi tantangan bagi penerbitan obligasi korporasi pada semester II-2026.

“Risiko tersebut antara lain ketidakpastian geopolitik global, tren kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), serta potensi bertahannya yield acuan pada level tinggi akibat kebijakan suku bunga yang masih ketat,” tegasnya.
Baca Juga : Kena CreditWatch Negatif, PEFINDO Turunkan Peringkat Adhi Commuter Properti (ADCP)
Lebih lanjut Suhindarto menilai, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, meningkatnya penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), serta persaingan dengan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga diperkirakan menjadi faktor yang perlu dicermati pelaku pasar.

