EBuzz — PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) menyatakan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah sektor belum memberikan tekanan signifikan terhadap kualitas aset kredit konsumsi perseroan, meski manajemen tetap memperkuat bantalan risiko (risk buffer) sebagai langkah mitigasi preventif.
Direktur Risk Management BTN Setiyo Wibowo mengungkapkan, hingga Maret 2026, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) segmen konsumer masih terjaga di kisaran 2,3%. Sementara itu, NPL kredit pemilikan rumah (KPR) justru menunjukkan perbaikan menjadi sekitar 2,8%, turun dari 3% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
“Gelombang PHK sampai saat ini belum berdampak signifikan terhadap kualitas kredit konsumer BTN. Namun, kami tetap mencermati sektor dan wilayah yang memiliki risiko PHK lebih tinggi,” ujar Setiyo kepada Kontan.co.id.
Tren PHK Nasional Justru Melandai
Setiyo menambahkan, secara nasional jumlah pekerja terdampak PHK sepanjang Januari hingga Mei 2026 tercatat 23.470 orang, jauh lebih rendah dibandingkan 46.015 orang pada periode yang sama tahun lalu, indikasi yang turut mendukung ketahanan kualitas aset perbankan di segmen konsumer.
Perkuat CKPN, NPL Coverage Melonjak ke 124%
Sebagai langkah antisipatif terhadap potensi pemburukan kualitas aset (asset quality deterioration), BTN memperkuat cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN). Hingga kuartal I 2026, rasio pencadangan terhadap kredit bermasalah (NPL coverage ratio) tercatat meningkat signifikan menjadi sekitar 124%, dari sebelumnya 104,6% pada periode yang sama tahun lalu, mencerminkan penguatan bantalan risiko yang lebih konservatif.
Selain memperkuat pencadangan, perseroan juga mengoptimalkan sistem peringatan dini (early warning system) dengan memantau rekening payroll dan pola pembayaran debitur secara berkala, serta menerapkan skema restrukturisasi kredit secara selektif bagi nasabah terdampak yang masih memiliki prospek pendapatan memadai.
Baca Juga CGAS Serap Dana IPO Rp156,02 Miliar, Mayoritas untuk Proyek LNG
Special Mention Loan Jadi Indikator Awal
Setiyo menjelaskan, apabila tekanan PHK berlanjut, dampak awal secara historis lazim tercermin lebih dulu pada kenaikan kredit dalam perhatian khusus (special mention loan), sebelum berpotensi bermigrasi menjadi kredit bermasalah.
“Namun, berdasarkan hasil stress testing, risikonya masih dapat dikelola. Karena itu, kami tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit sekitar 8% sampai 10% hingga akhir 2026,” katanya.
Di tengah dinamika tersebut, BTN tetap mematok target rasio NPL kredit konsumer di bawah 2,5%, sementara NPL konsolidasi perseroan secara keseluruhan dijaga di level di bawah 3% hingga penutupan tahun buku 2026, mengindikasikan keyakinan manajemen terhadap ketahanan kualitas aset di tengah dinamika pasar tenaga kerja domestik.

