Laris Manis, IPO Prodia Diagnostic Line (PRDL) Oversubscribe 709 Kali

EBuzz – Perusahaan yang bergerak di bidang penyedia komponen diagnostik kesehatan, PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), bersiap merealisasikan pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia pada Kamis, 9 Juli 2026.

Dalam fase penawaran umum yang baru saja diselesaikan, emiten berkode efek PRDL ini membukukan akumulasi kelebihan pemesanan (oversubscribed) yang signifikan pada porsi penjatahan terpusat (pooling), yang merepresentasikan tingginya minat investor institusional dan ritel pada instrumen ekuitas sektor kesehatan.

Direktur Utama PT Sucor Sekuritas selaku Penjamin Pelaksana Emisi Efek, Bernadus Wijaya, mengapresiasi terhadap antusiasme yang luar biasa terhadap IPO PRDL. Hal ini menunjukkan bahwa, minat investor terhadap perusahaan dengan fundamental yang solid masih sangat tinggi.

“Kami meyakini pencatatan saham PRDL akan menjadi momentum positif, baik bagi Perseroan maupun bagi perkembangan pasar modal Indonesia, khususnya dalam menghadirkan lebih banyak emiten berkualitas kepada publik,” urai Bernadus dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/7/2026). (9/7).

Penggunaan Dana IPO

Perseroan menetapkan harga eksekusi final sebesar Rp120 per lembar saham, yang mengindikasikan penggunaan batas atas dari koridor harga yang ditawarkan pada masa pembentukan harga (bookbuilding). Melalui aksi korporasi ini, perusahaan melepas sebanyak 522.900.000 lembar saham baru atau setara dengan 30% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh pascapenawaran umum. Melalui struktur emisi tersebut, perseroan berhasil menggalang dana publik sebesar Rupiah 62,75 miliar.

Sementara itu Direktur Utama PT Prodia Diagnostic Line Tbk, Cristina Sandjaja, menyatakan bahwa pencatatan saham di bursa efek merupakan langkah transformatif bagi kelangsungan usaha perseroan ke depan.

“IPO ini merupakan milestone yang sangat penting bagi perjalanan bisnis Proline yang membuktikan komitmen dan kerja keras perusahaan untuk menjadi bagian penting dalam ekosistem layanan kesehatan di Indonesia,” pungkas Cristina.

Cristina menyebutkan, penyerapan dana hasil IPO akan dialokasikan sebesar 62% untuk pelunasan sebagian fasilitas pinjaman perbankan. Selanjutnya, sisa dana sebesar 28,92% dialokasikan untuk memperkuat pos belanja modal (capital expenditure).

Baca Juga : Sucor Sekuritas dan Belimbing Stocks Bedah Fundamental RATU

“Adapun sisa dana sekitar 8,51% akan diintegrasikan ke dalam pos modal kerja operasional untuk pembiayaan bahan baku, pengembangan produk, serta aktivitas pemasaran,” imbuhnya.

Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini