EBuzz – Emiten farmasi pelat merah, PT Indofarma Tbk (INAF) optimistis untuk mencetak laba bersih pada tahun buku 2026. Proyeksi positif tersebut dipertahankan manajemen meskipun perseroan saat ini tengah menghadapi tekanan berat dari volatilitas nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap mata uang Rupiah.
Hal ini disebabkan oleh ketergantungan manufaktur operasional INAF yang cukup tinggi terhadap pasar luar negeri, di mana mayoritas atau sekitar 70% komponen bahan baku obat masih harus diperoleh melalui jalur impor dengan mekanisme pembayaran berbasis dolar AS.

Direktur Utama PT Indofarma Tbk, Sahat Sihombing, menjelaskan bahwa kenaikan harga pokok penjualan akibat depresiasi Rupiah merupakan konsekuensi logis yang tidak dapat dihindari oleh pelaku industri farmasi domestik saat ini.
“Target laba tahun ini kami tetap optimis, walaupun memang ada kondisi pelemahan kurs Rupiah terhadap dolar AS, kemudian kita ketahui bahwa memang pasti akan menaikkan harga pokoknya,” ujar Sahat dalam keterangan tertulisnya, Kamis (25/6/2026). (26/6).
Baca Juga : Indofarma (INAF) Ungkap Peta Jalan Pemulihan Kinerja hingga 2026
Lebih lanjut Sahat menambahkan, guna menjamin stabilitas pasokan dan mengendalikan margin keuntungan, manajemen INAF memastikan bakal mengintensifkan komunikasi strategis dengan para pemangku kepentingan (stakeholders) global, terutama korporasi vendor pemasok bahan baku utama.
Langkah taktis ini difokuskan pada renegosiasi kontrak dagang agar penyesuaian harga komoditas impor tetap berada dalam koridor rencana anggaran biaya yang dapat ditoleransi oleh keuangan perusahaan.
“Karena memang sumbernya (bahan baku) memang belum ada di dalam negeri, itu menjadi tantangan. Jadi, kita menjalin memanfaatkan hubungan baik dengan mereka, bagaimana mereka tetap bisa mendukung Indofarma di tengah pelemahan Rupiah,” sambungnya.
Pemangkasan Rugi Bersih Sebesar 76,7 Persen

Dalam rangkaian agenda yang sama, perseroan juga telah melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang menghasilkan keputusan ratifikasi serta persetujuan atas Laporan Keuangan Konsolidasian Perusahaan untuk Tahun Buku 2025.
Berdasarkan laporan keuangan yang disahkan tersebut, emiten farmasi BUMN ini membukukan nilai penjualan bersih (net revenues) sebesar Rp151,5 miliaryang terealisasi sepanjang tahun 2025.
Baca Juga : Gara-Gara Ini, Anak Usaha Indofarma (INAF) Pailit
Meskipun dari sisi laba bersih berjalan perseroan masih mencatatkan rapor merah, INAF berhasil melakukan efisiensi besar-besaran yang ditunjukkan lewat pemangkasan nilai rugi periode berjalan secara signifikan hingga 76,7 persen. Nilai kerugian bersih perseroan menyusut menjadi Rp77,9 miliar pada tahun buku 2025, dari basis kerugian pada tahun buku 2024 yang sempat menembus angka Rp334,5 itu.

