EBuzz – Langkah restrukturisasi yang tengah dijalankan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) diperkirakan bakal menekan kinerja profitabilitas perseroan dalam jangka pendek.
Dalam riset terbarunya, Analis UOB Kay Hian memproyeksikan beban operasional emiten telekomunikasi pelat merah ini masih berpotensi tertekan. Kondisi tersebut seiring dengan berlanjutnya implementasi program pensiun dini serta upaya efisiensi yang dilakukan internal perusahaan.
Selain beban dari program kepegawaian, Telkom juga menerapkan kebijakan perubahan metode depresiasi terhadap sejumlah aset dengan memperpendek masa manfaatnya. Langkah akuntansi ini berdampak pada penyajian kembali (restatement) laporan keuangan perseroan untuk tahun buku sebelumnya.

Kebijakan perpendekan masa manfaat aset tersebut turut memicu munculnya beban depresiasi satu kali (one-off) pada tahun 2025. Tidak hanya itu, Telkom juga dihadapkan pada kenaikan beban depresiasi berulang (recurring) yang diproyeksikan berlangsung selama periode tahun buku 2026 hingga 2028.
Meskipun kinerja laba bersih perseroan dalam jangka pendek dibayangi oleh peningkatan pos beban operasional dan depresiasi, UOB Kay Hian tetap mempertahankan rekomendasi beli (buy) untuk saham TLKM. Kendati demikian, target harga saham TLKM disesuaikan turun menjadi Rp3.600 dari target harga sebelumnya yang dipatok di level Rp4.200 per saham.
Baca Juga : Dirombak Total, Danantara Paksa TLKM Rampingkan Anak Usaha di 2026
Berdasarkan data operasional pasar, pada penutupan perdagangan terakhir di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham TLKM tercatat bergerak menguat 2,05% dan parkir di level Rp2.990 per saham.

