Pasca IPO, Nitrasanata Dharma (JECX) Bidik Pendapatan Rp1 Triliun

EBuzz – Emiten pengelola jaringan rumah sakit dan klinik spesialis mata, PT Nitrasanata Dharma Tbk membidik pendapatan usaha (top line) berada pada rentang target Rp900 miliar hingga Rp1 triliun sepanjang tahun ini. Selain itu, manajemen JECX juga memproyeksikan perolehan laba bersih konsolidasian mampu menyentuh kisaran angka Rp320 miliar.

Direktur Keuangan JEC Group, Budi Djatmiko, menyatakan bahwa manajemen tetap mempertahankan prospek bisnis yang optimistis dengan mengandalkan parameter efisiensi pada pos operasional.

“Kami masih optimis itu (top line) mencapai Rp900 miliar – Rp1 triliun, kita masih bisa capai. Untuk laba bersih kurang lebih sekitar Rp320 miliar, ini tergantung dari kita memonitor dan mengkontrol cost kita itu sendiri,” kata Budi Djatmiko di Gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa (7/7/2026).

Budi menjelaskan bahwa karakteristik industri layanan kesehatan menuntut adanya penyesuaian berkelanjutan (fine-tuning) terhadap strategi operasional demi memitigasi dampak dari volatilitas kondisi ekonomi makro. Langkah evaluasi strategis dilakukan secara periodik, yang meliputi rekayasa program layanan serta adaptasi kebijakan operasional untuk mempertahankan tingkat retensi pasien.

Tekanan Biaya Global

Perseroan secara ketat memantau volume kunjungan pasien (patient visit) serta keterisian fasilitas sepanjang tahun berjalan. Fluktuasi pendapatan dipengaruhi oleh kecenderungan perilaku pasien dalam melakukan penundaan tindakan medis tertentu berdasarkan skala prioritas keuangan mereka.

“Ada kemungkinan pasien itu misalnya menahan sedikit (tindakan medis) gitu ya, baru nanti tahun depan baru direalisasikan. Tapi semua pemeriksaannya dikejar tahun ini. Nah ini memengaruhi kenaikan penurunan (kinerja keuangan),” ucapnya.

Sementara dari sisi profitabilitas, manajemen memberikan ruang deviasi di mana realisasi laba bersih diperkirakan dapat berfluktuasi dengan rentang margin sekitar 10% dari target awal. Risiko volatilitas pada pos laba bersih ini utamanya disebabkan oleh faktor eksternal di luar kendali korporasi, khususnya tren kenaikan biaya modal dan beban pokok pendapatan.

Baca Juga : Bakal Raup Rp683 Miliar, Simak Jurus JECX Bayar Utang BCA Pakai Dana IPO

Tekanan inflasi pada struktur biaya (cost structure) perseroan saat ini didominasi oleh pergerakan harga dari rantai pasok alat kesehatan serta bahan medis habis pakai. Para pemasok global di sektor ini sedang menghadapi eskalasi biaya produksi akibat kelangkaan bahan baku serta penurunan kapasitas suplai di pasar internasional.

Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini