EBuzz – Emiten ritel PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) mencatatkan koreksi kinerja pada tiga bulan pertama tahun fiskal 2026. Di mana, laba bersih sebesar Rp193,29 miliar, atau merosot 11,3% dibandingkan capaian kuartal I-2025 yang senilai Rp217,88 miliar.
Manajemen RALS menjelaskan bahwa, penurunan laba bersih ini sejalan dengan melandainya omzet perseroan. Ramayana mencatatkan pendapatan sebesar Rp985,16 miliar, melorot 14% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,15 triliun.
Di tengah penurunan pendapatan tersebut, perseroan justru menghadapi tekanan dari sisi pengeluaran di mana beban pokok penjualan tercatat membengkak 19,4 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp463,56 miliar.
“Kondisi tersebut menyebabkan laba bruto RALS di kuartal I-2026 terkontraksi menjadi Rp521,6 miliar, atau menurun 8,6% dibandingkan kuartal I-2025 sebesar Rp570,81 miliar,” kata manajemen RALS, Rabu (29/4/2026).
Laba Usaha RALS Drop

Lebih lanjut, laba usaha perseroan pada periode Januari-Maret 2026 berada di angka Rp217,1 miliar, lebih rendah 9,9% (y-o-y). Sementara itu, laba sebelum pajak penghasilan tercatat Rp235,38 miliar, terperosok 11,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp265,63 miliar.
Sementara itu meskipun kinerja laba mengalami tekanan, dari sisi lembar imbangan atau balance sheet, jumlah ekuitas RALS per 31 Maret 2026 tercatat sebesar Rp3,77 triliun, tumbuh 8% dibandingkan posisi 31 Desember 2025 yang senilai Rp3,49 triliun.
“Namun, total liabilitas perseroan juga mengalami kenaikan signifikan, membengkak 38,4% (year-to-date) menjadi Rp1,77 triliun, yang didominasi oleh kewajiban jangka pendek sebesar Rp1,31 triliun,” tegasnya.
Baca Juga : Ramayana Masih Simpan 1,16 Miliar Saham Buyback, Belum Dilepas ke Pasar
Adapun total aset perseroan per akhir Maret 2026 mencapai Rp5,54 triliun atau naik 16,1% (y-t-d). Salah satu poin positif terlihat pada jumlah kas dan setara kas yang melonjak 49,6% menjadi Rp2,19 triliun, dibandingkan posisi akhir tahun 2025 yang senilai Rp1,47 triliun. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi tambahan dari manajemen mengenai strategi spesifik untuk menahan laju penurunan laba di kuartal berikutnya.

