Laba BRIS Tembus Rp4,15 Triliun, Bisnis Emas Melesat 92%

EBuzz – PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI (BRIS) membukukan laba sebesar Rp4,15 triliun pada semester I-2026, tumbuh 11% secara tahunan atau year-on-year (yoy). Bank syariah terbesar di Indonesia ini mengantongi pertumbuhan laba tersebut di tengah ekspansi pembiayaan dan lonjakan pendapatan berbasis biaya.

Fee Based Income Melonjak Ditopang Bisnis Emas

Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menyampaikan pendapatan berbasis biaya atau fee based incomemelonjak lebih dari 38% dan menopang pertumbuhan laba perseroan. “Fee based income BSI mencapai lebih dari Rp4 triliun di setengah tahun ini,” ungkap Cahyo dalam konferensi pers BSI yang digelar virtual, Jumat (21/8/2026).

Bisnis emas menjadi motor pertumbuhan utama fee based income tersebut, dengan pendapatan dari lini ini tumbuh 92% secara tahunan. Produk gadai dan tabungan emas mendominasi kontribusi pertumbuhan tersebut, sementara aktivitas treasury turut mencatatkan kinerja positif.

BSI menopang pendanaannya lewat pertumbuhan tabungan yang mencapai lebih dari 22% dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK). Baik produk tabungan wadiah maupun non-wadiah mencatatkan pertumbuhan dua digit di seluruh lini produk tersebut.

Pembiayaan Korporasi dan UMKM Dorong Ekspansi Kredit

BSI mencatatkan pembiayaan sebesar Rp340,09 triliun pada fungsi intermediasinya, tumbuh 15,98% secara tahunan. Segmen wholesale banking menopang pertumbuhan pembiayaan tersebut dengan kenaikan 16,62%, didorong terutama oleh pembiayaan korporasi yang melonjak 21,13%.

BSI mencatatkan pertumbuhan pembiayaan ritel sebesar 12,58% pada kuartal II-2026, dengan kontribusi besar berasal dari segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pembiayaan UMKM tumbuh 19,98%, sedangkan segmen consumer, gold, dan card yang menjadi basis utama bisnis BSI naik 16,70%.

Direktur Manajemen Risiko BSI Grandhis Helmi Harumansyah menegaskan segmen consumer, gold, dan card tetap menjadi kontributor terbesar terhadap total pembiayaan perseroan. “Segmen ini tetap menjadi kontributor utama atau bagian terbesar dari total pembiayaan BSI, yaitu lebih dari separuh, 55,65% pembiayaan consumer, gold, dan card ini merupakan penopang dari pembiayaan BSI,” ungkap Grandhis.

Baca Juga YUPI Gelontorkan Dividen Interim Rp145,36 Miliar

Rasio Kredit Macet Membaik, NPF Emas Terjaga Rendah

Bisnis pembiayaan emas BSI tumbuh 80,52% secara tahunan menjadi Rp30,4 triliun, menjadikannya salah satu segmen dengan ekspansi tercepat di semester I-2026. Segmen ini turut mencatatkan tingkat imbal hasil sekitar 12,4% serta rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) yang tetap rendah di level 0,11%.

BSI membukukan perbaikan kualitas aset secara keseluruhan, dengan rasio kredit macet atau NPF gross turun menjadi 1,8%. Rasio NPF net perseroan berada di level 0,33%, mencerminkan pengelolaan risiko kredit yang tetap terjaga di tengah ekspansi pembiayaan yang agresif.

Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini