Kejar Omzet Rp2 Triliun, Cisadane Sawit (CSRA) Pasang Target TBS 700.000 Ton

EBuzz – Emiten perkebunan kelapa sawit, PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA), membidik pertumbuhan kinerja agresif pada tahun buku 2026. Perseroan menetapkan target volume pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) di pabrik kelapa sawit (PKS) internal mencapai 700.000 ton hingga akhir tahun ini.

Guna menopang target ekspansif tersebut, CSRA mengalokasikan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp100 miliar pada tahun ini. Dana capex tersebut akan dialokasikan secara strategis untuk mendanai program replanting serta perluasan emiten lahan.

Direktur CSRA, Seman Sendjaja, mengungkapkan bahwa hingga kuartal I-2026 atau per Maret 2026, capaian produksi TBS perseroan telah mengamankan sekitar 18% dari total target tahunan. Realisasi tersebut dinilai manajemen masih berada di jalur yang tepat untuk memenuhi proyeksi akhir tahun.

“Target operasional tersebut mencerminkan lonjakan sebesar 40% dibandingkan dengan realisasi pengolahan TBS sepanjang tahun 2025 yang tercatat sebesar 500.000 ton,” kata Seman saat Public Expose dikawasan Pluit, Jakarta, Rabu (20/5/2026). (21/5).

Seman menambahkan, dalam mengeksekusi ekspansi landbank, perseroan menerapkan strategi pertumbuhan organik melalui akuisisi taktis terhadap perusahaan-perusahaan yang memiliki konsesi lahan potensial namun belum melakukan unplanted land.

Langkah ini diambil untuk memperkuat struktur aset lahan dengan biaya yang lebih terukur sekaligus menjaga keberlanjutan produksi jangka panjang.

“Melalui kombinasi peningkatan kapasitas pengolahan dan ekspansi lahan, manajemen CSRA memproyeksikan total penjualan mampu menembus angka Rp2 triliun pada akhir tahun 2026. Pertumbuhan top line ini diharapkan bakal turut mengerek margin laba bersih perseroan hingga tumbuh double digit,” ucapnya.

Sentimen Harga CPO Global

Dari sisi industri, manajemen CSRA mempertahankan pandangan optimistis terhadap prospek harga Crude Palm Oil (CPO) hingga akhir tahun 2026. Harga komoditas minyak kelapa sawit mentah diproyeksikan bertahan di level tinggi yang dipicu oleh faktor ketidakpastian geopolitik global.

Seman menjelaskan, tren harga CPO pasca-2020 konsisten bergerak menguat dibandingkan rata-rata harga sebelum pandemi Covid-19 yang berada di kisaran USD300 hingga USD500 per ton.

“Di 2020, saat Covid-19, harga malah naik. Tahun 2021 terjadi perang Ukraina, harga naik lagi. Bahkan dengan perkembangan geopolitik di Iran saat ini, efeknya juga mengarah ke kenaikan harga,” jelas Seman.

Baca Juga : CSRA Siapkan Rp90 Miliar untuk Buyback Saham, Harga Saham Bakal Melonjak?

Manajemen menambahkan, volatilitas global dan ketegangan geopolitik secara tidak langsung mendorong kenaikan harga-harga komoditas dunia, termasuk CPO, yang memberikan dampak positif terhadap kinerja pendapatan rata-rata perseroan.

Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini