EBuzz – Pemerintah mendorong penguatan peran pasar modal untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan meningkat dari sekitar Rp7.400 triliun pada 2026 menjadi Rp9.200 triliun pada 2029.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan peningkatan kebutuhan pembiayaan tersebut perlu diimbangi dengan pendalaman pasar keuangan dan diversifikasi sumber pembiayaan, termasuk melalui pengembangan berbagai instrumen investasi di pasar modal.
“Karena pembiayaan ekonomi yang di 2026 itu sekitar Rp7.400 triliun, itu akan meningkat ke Rp9.200 triliun di tahun 2029,” kata Airlangga di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (10/8/2026).

Menurut Airlangga, pasar modal memiliki peran strategis dalam menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian dan pasar keuangan nasional. Menurutnya, pasar modal menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor, terutama pada momentum strategis.
Baca Juga : Kuartal I-2026 Salurkan Pembiayaan Rp2,3 Triliun, Home Credit Hadir di JFK 2026
“Pasar modal selalu merupakan proksi ekonomi yang dilihat oleh para investor, terutama pada saat-saat yang sangat strategis,” ujarnya.
Airlangga mengatakan penguatan pasar modal juga didukung oleh kinerja perekonomian nasional. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tercatat 5,29% secara tahunan atau year on year (yoy), sedangkan pertumbuhan ekonomi pada semester I-2026 mencapai 5,45%.
Pemerintah Dorong Diversifikasi Pembiayaan

Seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan ekonomi, Airlangga mengatakan pemerintah mendorong diversifikasi sumber pembiayaan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pembiayaan berbasis pinjaman.
Menurutnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI perlu mengembangkan berbagai instrumen investasi untuk memperluas sumber pembiayaan ekonomi.
“Jadi saat ini adalah momentum kita juga untuk diversifikasi daripada pinjaman,” imbuh Airlangga.
Airlangga mengatakan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga. Seluruh peringkat utang atau sovereign rating Indonesia berada pada kategori investment grade.
S&P Global Ratings memberikan peringkat BBB/A-2, Fitch Ratings BBB, Moody’s Baa2, sedangkan Rating and Investment Information (R&I) dan Japan Credit Rating Agency (JCR) memberikan peringkat BBB+.
ETF Emas Jadi Instrumen Baru
![]()
Selain diversifikasi sumber pembiayaan, pemerintah mendorong pengembangan produk investasi baru untuk memperdalam pasar keuangan Indonesia. Salah satunya melalui peluncuran Exchange Traded Fund (ETF) emas di pasar modal Indonesia.
Airlangga mengatakan ETF emas dapat memperluas pilihan investasi sekaligus mendukung peningkatan likuiditas pasar.
“Kami mengapresiasi langkah OJK yang menetapkan Electronic Gold Receipt (EGR) sebagai Efek yang dapat dicatat dalam portofolio ETF emas,” katanya.
Baca Juga : HIPMI: PFII Jadi Peluang Baru Perluas Pembiayaan
Pengembangan instrumen tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperluas sumber pembiayaan dan memperdalam pasar keuangan Indonesia seiring meningkatnya kebutuhan pembiayaan ekonomi dalam beberapa tahun mendatang.

