EBuzz – PT Gudang Garam Tbk (GGRM) membukukan lonjakan laba bersih signifikan sepanjang semester I 2026. Perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 3 triliun, melesat 2.440% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Capaian ini melampaui ekspektasi analis maupun konsensus pasar. GGRM merealisasikan 91% dari proyeksi Indo Premier Sekuritas dan 77% dari estimasi konsensus, jauh melampaui rata-rata pencapaian lima tahun terakhir yang hanya berada di level 48%.
Analis Pasang Target Tinggi untuk 2026 dan 2027
Indo Premier Sekuritas memproyeksikan pendapatan GGRM mencapai Rp 91,94 triliun dengan laba bersih Rp 3,28 triliun pada 2026. Sekuritas tersebut memperkirakan kinerja perseroan terus menanjak pada 2027, dengan pendapatan mencapai Rp 99,34 triliun dan laba bersih Rp 3,69 triliun.
Margin Laba Melebar, Efisiensi Biaya Membaik
GGRM mendorong profitabilitasnya melalui perbaikan margin laba kotor atau gross profit margin (GPM) yang naik menjadi 14,5% pada semester I 2026, meningkat 600 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Perseroan juga menekan rasio biaya operasional terhadap penjualan menjadi 5,5%, turun 221 basis poin year on year(yoy). Efisiensi ini mendorong marjin earnings before interest and taxes (EBIT) melonjak menjadi 9,1%, naik 831 basis poin yoy.
Pendapatan Masih Tertekan Pelemahan Volume
Di sisi lain, GGRM masih menghadapi tekanan pada pos pendapatan. Perseroan membukukan pendapatan semester I 2026 sebesar Rp 41,2 triliun, turun 7,2% yoy. Realisasi ini sejalan dengan konsensus pasar, namun berada di bawah perkiraan Indo Premier.
Segmen sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret kretek tangan (SKT) menjadi penekan utama pendapatan, dengan penjualan masing-masing anjlok 8% dan 6% yoy. Analis Indo Premier Sekuritas Andrianto Saputra menyebut pelemahan penjualan pada kuartal II 2026 terjadi akibat penurunan volume, meski perseroan telah menaikkan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP).
Volume SKM Anjlok di Tengah Kenaikan Harga
GGRM mencatat penjualan bersih kuartal II 2026 turun tipis 1,1% yoy menjadi Rp 21,1 triliun. Segmen SKM kembali menjadi pemberat utama dengan pertumbuhan penjualan minus 2% yoy, sementara segmen SKT masih mencetak pertumbuhan positif sebesar 1,1% yoy.
Berdasarkan pengecekan kanal distribusi terbaru, Indo Premier memperkirakan GGRM menaikkan blended ASP SKM sebesar 6,8% yoy. Kombinasi kenaikan harga tersebut dengan penurunan penjualan SKM sebesar 2% mengindikasikan volume penjualan anjlok sekitar 8,2% yoy.
Penurunan volume GGRM ini berada jauh di bawah pertumbuhan industri yang mencapai 3,5% yoy menurut data Purchasing Managers Index (PMI). Kondisi ini mengonfirmasi tren perpindahan konsumen ke produk rokok berharga lebih rendah atau downtrading masih berlanjut di tengah lemahnya daya beli masyarakat.
Baca Juga Pendapatan SSIA Tembus Rp3,35 Triliun di Semester I
Laba Kuartal II Tetap Cetak Pemulihan Kuat
Meski penjualan tertekan, GGRM tetap mencatatkan pemulihan laba yang kuat pada kuartal II 2026. Margin laba kotor perseroan naik menjadi 13,5% pada periode tersebut, meningkat 514 basis poin yoy, didorong kenaikan ASP SKM sebesar 6,8% yoy serta tarif cukai yang relatif stabil.
Dari sisi efisiensi biaya, GGRM menekan rasio beban operasional terhadap penjualan menjadi 5,2%, turun 241 basis poin yoy. Perseroan mencapai perbaikan ini melalui penurunan rasio biaya iklan dan promosi atau advertising and promotion(A&P) sebesar 93 basis poin menjadi 0,9%, serta penurunan rasio biaya gaji menjadi 1,7%.

