EBuzz – Perdana Menteri Kerajaan Thailand Anutin Charnvirakul mengungkapkan nilai perdagangan bilateral Indonesia dan Thailand telah mencapai sekitar 20 miliar dolar AS. Ia menilai masih tersedia ruang luas untuk mendongkrak volume trade dan investasi mengingat besarnya skala perekonomian kedua negara. PM Anutin menyampaikan hal tersebut dalam pengantar pertemuan bilateral dengan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (03/08/2026).
Usulkan Komite Perdagangan Bersama
PM Anutin mendorong pembentukan Komite Perdagangan Bersama Indonesia–Thailand sebagai instrumen untuk memperluas kerja sama ekonomi kedua negara. Ia meyakini mekanisme ini akan mempercepat penyelesaian hambatan perdagangan sekaligus membuka akses pasar yang lebih lebar bagi pelaku usaha kedua negara.
Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Beras dan Pupuk
Dalam sektor ketahanan pangan, PM Anutin menawarkan penguatan kerja sama melalui penyediaan beras berkualitas serta peningkatan perdagangan produk pertanian dan peternakan. Ia juga mengusulkan kenaikan impor pupuk urea dari Indonesia, dari sekitar 60 ribu ton menjadi 100 ribu ton per tahun, guna mendukung produktivitas sektor pertanian Thailand.
PM Anutin turut mendorong percepatan kerja sama di sektor perikanan dan industri halal. Ia menilai kedua sektor tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan bersama mengingat permintaan pasar global terhadap produk halal terus meningkat.
Baca Juga Prabowo dan PM Thailand Perkuat Kemitraan Strategis
Investasi Dua Arah Didorong Perluas Rantai Nilai
Pada bidang investasi, PM Anutin menyampaikan tingginya kepercayaan investor Thailand terhadap iklim usaha Indonesia. Ia menjadikan keberhasilan investasi Lion Air di Thailand sebagai contoh nyata keberhasilan kolaborasi investasi dua arah antara kedua negara.
PM Anutin menilai penguatan investasi timbal balik dapat mendorong pembangunan supply chain yang menghubungkan perekonomian Indonesia dan Thailand. Ia menyoroti potensi pasar gabungan kedua negara yang mencapai lebih dari 350 juta jiwa penduduk sebagai modal besar untuk memperluas skala ekonomi kawasan.
Penguatan kemitraan ekonomi ini diproyeksikan mempercepat integration rantai pasok regional sekaligus membuka peluang baru bagi pelaku usaha di sektor pangan, perikanan, dan manufaktur di kedua negara.

