EBuzz ── Pemerintah mendorong penguatan sistem distribusi pangan melalui pemanfaatan jaringan pasar tradisional yang lebih optimal, sebagai salah satu kunci menjaga stabilitas harga di tengah tekanan inflasi domestik. Instrumen utama yang diandalkan adalah program Warung Pangan, yang dikembangkan PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID FOOD.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menyatakan pemerintah sejatinya telah memiliki infrastruktur berupa pasar tradisional yang tersebar di 514 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Namun, jaringan tersebut selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, khususnya dalam memperoleh akses pasokan barang dari produsen maupun distributor.
“Jadi tidak hanya barang-barang yang kemudian disubsidi saja, yang akan dijaga stabilitas harganya, tetapi barang-barang komersial lainnya akan menjadi kewajiban ID FOOD untuk kemudian menjadi rangka usaha dalam memperbesar labanya,” ujar Hanif.
Dua Mandat Sekaligus: Stabilisasi Harga dan Bisnis
ID FOOD saat ini mengemban dua mandat sekaligus, yakni menjaga stabilitas harga pangan dan menjalankan bisnis perdagangan pangan secara sehat. Dari sisi stabilisasi harga, jaringan Warung Pangan akan menjadi instrumen pemerintah untuk melakukan intervensi ketika terjadi gejolak harga di pasar tradisional.
Di sisi lain, pengembangan Warung Pangan juga tetap memperhatikan aspek sustainability bisnis perusahaan. Selain mendistribusikan komoditas terkait stabilisasi harga, ID FOOD didorong mengembangkan perdagangan produk komersial guna mendongkrak kinerja keuangan perseroan ke depan.
Rantai Pasok Panjang Jadi Biang Kenaikan Harga
Hanif menyebut persoalan utama distribusi pangan nasional selama ini terletak pada panjangnya supply chain, sehingga harga barang mengalami kenaikan berlapis sebelum sampai ke tangan pedagang. Karena itu, pemerintah mendorong ID FOOD membangun jaringan Warung Pangan sebagai jalur distribusi yang lebih pendek dan efisien.
Hanif juga menegaskan program Warung Pangan tidak akan tumpang tindih dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), karena kedua program memiliki fungsi yang berbeda namun saling melengkapi. KDMP difokuskan untuk memperlancar distribusi barang-barang subsidi pemerintah, sementara Warung Pangan berperan memperkuat distribusi komoditas pangan yang berpotensi memicu tekanan inflasi.
“Maka di situlah fungsi infrastruktur KDMP. Sedangkan ID FOOD mempunyai peran yang lebih kepada organik lagi, langsung masuk pada sisi pasar melalui warung pangan ini. Warung pangan ini kita harapkan terus berkembang, dan tidak hanya pada barang-barang yang menjadi subsidi pemerintah, tetapi barang-barang yang kemudian menyebabkan inflasi,” jelas Hanif.
Baca Juga Prajogo Pangestu Incar Raksasa Panas Bumi Filipina Senilai US$5 Miliar
Target Ekspansi Mitra hingga Akhir 2026
Direktur Komersial ID FOOD Dwi Sutoro mengungkapkan perusahaan menargetkan jumlah mitra Warung Pangan meningkat signifikan menjadi 25.000 hingga 27.000 mitra sampai akhir 2026, dari sekitar 8.000 mitra yang telah bergabung saat ini. Target ekspansi tersebut mengindikasikan komitmen ID FOOD memperluas cakupan distribusi guna memperkuat buffer stock dan menjaga ketahanan pasokan pangan di tingkat pasar tradisional.

