EBuzz — Bank Indonesia (BI) mengonfirmasi tingginya ketidakpastian global menjadi pemicu utama derasnya arus modal asing keluar (capital outflow) pada kuartal I 2026, dengan tekanan paling signifikan terjadi di pasar saham domestik.
Hal ini diungkapkan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam Investment Forum 2026. Merespons dinamika tersebut, otoritas moneter menempuh kebijakan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) guna melakukan repricingterhadap portofolio pasar uang domestik, termasuk instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Kenaikan 100 Bps Picu Reversal Arus Modal
Sepanjang Mei hingga Juni 2026, BI menaikkan suku bunga kumulatif sebesar 100 basis poin (bps), sebuah langkah moneter yang berhasil memicu proses repricing pada instrumen SBN dan SRBI. Berdasarkan data BI, kebijakan tersebut mendorong arus masuk modal (inflow) pada periode Juni hingga awal Juli 2026, dengan rincian SBN mencatatkan inflow Rp33 triliun dan SRBI sebesar Rp72 triliun, sehingga akumulasi inflow pada periode tersebut mencapai Rp105 triliun.
“Secara keseluruhan SBN inflow Rp17,7 triliun karena kuartal I negatif dan SRBI Rp174 triliun, di saham ada repricing sehingga inflow Rp132 triliun,” papar Destry.
Baca Juga ASII Ajukan Pengalihan 100 Juta Saham Treasury untuk Program MSOP Manajemen
Strategi Anchoring dan Frontloading Jadi Kunci
Dari pengalaman tersebut, Destry menegaskan momentum terjadinya outflow menuntut otoritas moneter untuk secara aktif menjaga persepsi pasar (anchoring) guna mencegah eskalasi ketidakpastian lebih lanjut. Upaya ini, menurutnya, harus ditempuh secara frontloading, yakni tindakan kebijakan yang diambil lebih awal untuk mengantisipasi tekanan ke depan, termasuk potensi risiko inflasi.
“Ini mendasari juga kami lakukan keputusan itu karena harus ada repricing aset portofolio kita, melalui BI Rate,” jelas Destry.
Langkah repricing melalui instrumen suku bunga ini mencerminkan strategi bauran kebijakan (policy mix) BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mempertahankan daya tarik instrumen pasar uang domestik di tengah tekanan arus modal global yang masih fluktuatif.

