Baru Masuk Nasdaq-100, Saham SpaceX Anjlok Ke Level Terendah

EBuzz — Momentum yang seharusnya jadi validasi besar bagi SpaceX justru berubah jadi mimpi buruk bagi investornya. Hanya beberapa hari setelah resmi bergabung ke indeks Nasdaq-100, saham perusahaan roket dan satelit milik Elon Musk itu justru terjun ke level terendah sepanjang sejarah perdagangannya sebagai perusahaan publik.

Dari Puncak $225, Kini di Bawah Harga IPO

Saham SpaceX dengan kode SPCX sempat menyentuh titik terendah sepanjang masa di $145,20 per saham pada 8 Juli, sebelum sedikit pulih dan ditutup di $148-149. Level ini berada di bawah harga debut perdagangannya sebesar $150 untuk hari kedua berturut-turut dan telah terkoreksi sekitar 35 persen dari puncaknya di $225,64 yang dicapai hanya beberapa hari usai listing pada 12 Juni lalu.

Ironisnya, koreksi tajam ini terjadi justru ketika SpaceX resmi masuk ke Nasdaq-100 pada 7 Juli, sebuah pencapaian yang biasanya memicu gelombang pembelian otomatis dari dana-dana yang melacak indeks tersebut. Alih-alih terdongkrak, saham SPCX malah anjlok 6,8 persen tepat pada hari inklusi itu, sinyal bahwa tekanan jual jauh lebih besar ketimbang dorongan pembelian paksa dari indeks.

Kenapa “Forced Buying” Gagal Menahan Penurunan?

SpaceX memenuhi syarat masuk Nasdaq-100 hanya dalam 15 hari perdagangan berkat aturan fast-entry bursa tersebut bagi emiten berkapitalisasi besar. Inklusi ini mewajibkan dana index-tracking dengan total kelolaan sekitar $800 miliar, termasuk Invesco QQQ Trust, untuk membeli saham SpaceX demi menyesuaikan portofolio, dengan estimasi forced buying mencapai sekitar $4 miliar.

Masalahnya, float saham SpaceX yang beredar bebas di pasar sangat terbatas. Perusahaan hanya melepas sekitar 4-5 persen dari total sahamnya saat IPO. Skema kelangkaan pasokan inilah yang sebelumnya justru mendorong harga saham melesat hingga $225, namun kini berbalik menjadi bumerang ketika pasokan baru mulai membanjiri pasar.

Beban Baru: Akuisisi Cursor hingga Obligasi Rp Triliunan

Tekanan jual diperparah oleh serangkaian aksi korporasi pascalisting yang mendilusi nilai saham. Pada 17 Juni, SpaceX mengumumkan akuisisi senilai $60 miliar secara all-stock terhadap Cursor, startup AI coding, yang berpotensi mendilusi kepemilikan pemegang saham lama sekitar 3,4 persen sebelum laporan keuangan pertama dirilis. Perusahaan juga menerbitkan obligasi perdana senilai sekitar $20 miliar untuk melunasi pinjaman jembatan terkait akuisisi xAI.

Yang lebih mengkhawatirkan investor adalah jadwal pencairan lock-up saham. Menurut riset 22V, insider berpotensi melepas hingga 44 persen kepemilikan mereka sampai awal September, yang berarti float saham yang bisa diperdagangkan bebas berpotensi melonjak hingga 900 persen dari level saat ini.

Baca Juga Saham “RANS” Meroket ke Radar Investor, Harga IPO Dipatok Rp170

Valuasi Rp30.000 Triliun di Tengah Kerugian Miliaran Dolar

Meski harga sahamnya babak belur, kapitalisasi pasar SpaceX masih bertengger di kisaran $1,9 triliun. Padahal, perusahaan mencatat kerugian bersih $4,9 miliar sepanjang 2025 dan tambahan kerugian $4,3 miliar pada kuartal pertama 2026, akibat belanja besar-besaran untuk unit AI xAI dan pengembangan roket Starship.

Pendapatan SpaceX pada 2025 tercatat sekitar $18,7 miliar, tumbuh 33 persen secara tahunan, dengan bisnis internet satelit Starlink menyumbang lebih dari $11 miliar atau 61 persen dari total pendapatan — menjadikannya tulang punggung utama valuasi triliunan dolar perusahaan. Namun dengan valuasi setara 100 kali pendapatan, banyak analis menilai harga saham SpaceX nyaris tak menyisakan ruang toleransi bagi kesalahan eksekusi.

Sejumlah bank besar seperti Morgan Stanley, Bernstein, RBC, dan UBS tetap mempertahankan rating beli untuk saham ini, sementara MoffettNathanson memilih netral dan CFRA justru merekomendasikan jual.

Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini