EBuzz – Emiten energi, PT Futura Energi Global Tbk (FUTR), mencatatkan penurunan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang tahun buku 2025. Berdasarkan laporan keuangan, perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp32,73 miliar atau turun 65,18% dibandingkan perolehan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp94,00 miliar.
Sejalan dengan penurunan top-line, beban pokok pendapatan perseroan tercatat ikut menyusut menjadi Rp23,00 miliar dari posisi sebelumnya sebesar Rp74,88 miliar pada 2024. Kendati demikian, koreksi pendapatan yang lebih dalam membuat laba bruto perseroan ikut tertekan menjadi Rp9,72 miliar, turun dari raihan laba bruto tahun sebelumnya yang sebesar Rp19,12 miliar.
Tercatat, pos pendapatan dan efisiensi operasional membawa dampak rambatan pada profitabilitas perseroan. FUTR harus menderita rugi usaha sebesar Rp38,89 miliar pada akhir Desember 2025, berbalik dari posisi tahun buku 2024 yang masih mencetak laba usaha sebesar Rp7,71 miliar.
Penyusutan Posisi Aset dan Liabilitas Neraca

Kondisi tersebut turut menyeret pos kinerja sebelum pajak perseroan. Manajemen melaporkan rugi sebelum pajak diderita sebesar Rp38,84 miliar, setelah pada periode tahun sebelumnya berhasil meraih laba sebelum pajak sebesar Rp6,77 miliar.
Sedangkan dari sisi bottom-line, perusahaan yang kini memiliki geothermal di Jawa Tengah, menderita rugi neto yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp40,08 miliar sepanjang tahun buku 2025. Performa ini berbanding terbalik dengan capaian tahun buku 2024, di mana perseroan kala itu masih membukukan laba neto yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp4,73 miliar.
Sementara dari sisi posisi neraca, total liabilitas FUTR mengalami penurunan menjadi Rp28,19 miliar hingga 31 Desember 2025, dari posisi akhir tahun buku 2024 yang tercatat sebesar Rp41,88 miliar.
Baca Juga : Aksi Borong Saham Berlanjut, Anggara Suryawan Serok 302 Ribu Saham FUTR
Sementara itu, akun total aset perseroan per 31 Desember 2025 terkoreksi menjadi Rp204,78 miliar. Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan dengan total aset pada periode 31 Desember 2024 yang mencapai Rp231,80 miliar.

“Laporan keuangan perseroan Kamis menyebutkan, beban pokok pendapatan turun menjadi Rp23,00 miliar dari Rp74,88 miliar dan laba bruto turun menjadi Rp9,72 miliar dari laba bruto Rp19,12 miliar,” tulis manajemen dalam publikasi laporan keuangan tersebut.

