EBuzz – Emiten yang bergerak di sektor perkebunan, PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA), mengalokasikan anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp107 miliar untuk periode tahun buku 2026. Alokasi dana tersebut disiapkan guna mendukung target peningkatan volume produksi di seluruh lini usaha perkebunan perseroan.
Melalui penyerapan belanja modal ini, manajemen membidik pertumbuhan signifikan pada dua komoditas utama, yakni kelapa sawit dan karet, yang akan dicapai lewat optimalisasi aset produktif serta penguatan kontribusi pasokan bahan baku dari pihak ketiga.
Sekretaris Perusahaan JAWA Harli Wijayadi mengungkapkan, perseroan memproyeksikan total produksi karet pada 2026 mampu menyentuh angka 24.277 ton. Target tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 49,66% dibandingkan realisasi produksi pada tahun buku 2025.

“Kenaikan pada komoditas karet ditopang oleh rencana peningkatan hasil produksi dari kebun milik sendiri menjadi sebesar 7.515 ton, serta pasokan dari petani swadaya dan pihak ketiga yang ditargetkan mampu memasok hingga 16.762 ton,” imbuh Harli dalam keterangan tertulisnya, Rabu (24/6/2026).
Baca Juga : Jaga Kinerja dan Fundamental, Ini Formulasi Jasa Armada Indonesia (IPCM) Hadapi Tantangan Global
Sementara itu, untuk segmen kelapa sawit, total produksi Tandan Buah Segar (TBS) ditargetkan mencapai 461.700 ton pada tahun ini, atau tumbuh sebesar 27,65% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan capaian sepanjang 2025. Struktur produksi TBS tersebut diproyeksikan berasal dari kontribusi kebun inti sebesar 190.950 ton, dan pasokan dari petani plasma serta pihak ketiga yang diperkirakan mencapai 270.750 ton.
Seiring dengan ekspansi penyerapan TBS tersebut, JAWA membidik volume produksi minyak kelapa sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) sebesar 99.236 ton pada 2026, melonjak 43,10% dibandingkan realisasi tahun 2025. Adapun untuk produk turunan berupa inti sawit (kernel), perseroan menetapkan target produksi sebesar 18.891 ton, atau terkerek naik hingga 43,28% yoy.
“Pertumbuhan produksi pada 2026 akan ditopang oleh optimalisasi tanaman menghasilkan (TM) yang tersedia serta peningkatan produktivitas kebun perseroan,” tulisnya.
Mitigasi Perubahan Cuaca dan Strategi Konversi Lahan

Menurut Harli, langkah peningkatan produktivitas ini diambil manajemen sekaligus untuk mengimbangi sejumlah tantangan operasional yang tengah dihadapi di lapangan. Perseroan mengonfirmasi bahwa beberapa area konsesi perkebunan kelapa sawit saat ini masih berada dalam fase pemulihan akibat dampak perubahan cuaca ekstrem yang memengaruhi tingkat produktivitas tanaman.
Di sisi lain, untuk komoditas karet, khususnya yang berlokasi di wilayah perkebunan Jawa Tengah, volume produksi sedang mengalami tekanan musiman akibat adanya kebijakan internal perusahaan terkait konversi sebagian lahan. Proses tersebut mengubah status lahan dari Tanaman Menghasilkan (TM) menjadi Tanaman Belum Menghasilkan (TBM).
“Untuk mengatasi kondisi tersebut, JAWA terus melakukan berbagai langkah perbaikan operasional, termasuk meningkatkan produktivitas kebun perseroan maupun kebun milik entitas anak,” ucap Harli.
Baca Juga : Kinerja Q1-2026 Solid, Emiten Haji Isam (PGUN) Kantongi Penjualan Rp166,54 Miliar
Sebagai langkah mitigasi taktis guna menjaga kelangsungan usaha dan mencapai target pasokan, perseroan berkomitmen penuh untuk menerapkan standarisasi perawatan agronomi yang ketat. Perseroan juga meyakini bahwa optimalisasi tanaman menghasilkan yang tersedia akan memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan produksi pada periode mendatang.

