Bukit Asam (PTBA) Optimalkan Integrasi Hulu-Hilir Komoditas Biomassa

EBuzz – Emiten pertambangan batu bara anggota Holding Industri Pertambangan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) telah melakukan penyelesaian agenda Uji Coba Cofiring Tahap II di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang Banko Barat berkapasitas 3×10 MW. Program ini merupakan bagian dari, reduksi emisi karbon operasional perseroan.

Berdasarkan keterbukaan informasi, PTBA meningkatkan persentase substitusi bahan bakar pada uji coba tahap kedua ini. Perseroan menggunakan biomassa jenis wood pellet Kaliandra Merah sebesar 2% serta biomassa campuran dari tanaman pulai, akasia, dan puspa sebesar 3%. Komposisi input tersebut meningkat dibandingkan realisasi Uji Coba Tahap I pada September 2025, yang menggunakan biomassa hasil land clearing dengan porsi masing-masing sebesar 1%.

Mine Development Department Head PTBA, Ferry Fadri Al Ilham, menjelaskan bahwa peningkatan volume bauran energi bersih ini dilakukan guna mengevaluasi parameter teknis untuk implementasi komersial jangka panjang.

“Uji coba ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan PTBA untuk mengoptimalkan pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi pendamping batu bara. Hasilnya akan menjadi dasar evaluasi dalam pengembangan implementasi cofiring ke depan,” ujar Ferry dalam keterangan tertulisnya, Rabu (17/6/2026).

Sementara itu, Direktur PT Bukit Energi Servis Terpadu (PT BEST) anak usaha PTBA yang mengelola pembangkit Zulkurniadi mengonfirmasi bahwa, peningkatan porsi biomassa ini tidak mengubah konstruksi dasar maupun sistem operasional utama PLTU.

“Keandalan termal pembangkit didukung oleh penggunaan teknologi boiler tipe Circulating Fluidized Bed (CFB). Karakteristik boiler tersebut mampu menjaga stabilitas performa serta efisiensi pembangkit, meskipun karakteristik nilai kalor komoditas biomassa secara umum berada di bawah nilai kalor batu bara standar,” imbuhnya

Amankan Rantai Pasok Bahan Baku

Untuk mengamankan pasokan rantai bahan baku wood pellet, PTBA mengandalkan produksi dari proyek Kebun Energi yang dikembangkan pasca-kolaborasi dengan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta sejak Januari 2024.

Guru Besar Fakultas Pertanian UPNVYK, Prof. Dr. Mohammad Nurcholis, M.Si., menguraikan bahwa Kaliandra Merah dipilih karena memiliki kualifikasi vegetasi cepat tumbuh (fast-growing) dan mampu bertunas kembali pasca-panen tanpa penanaman ulang. Komoditas ini menghasilkan tingkat densitas energi dengan nilai kalor di atas 4.300 kkal/kg.

Baca Juga : Nasib Proyek DME PTBA Ada di Tangan Danantara, Jadi Eksekusi Tahun Ini?

Corporate Secretary Division Head PTBA, Eko Prayitno, menegaskan langkah integrasi hulu-hilir pada pemanfaatan biomassa ini menjadi salah satu program strategis perseroan dalam memitigasi risiko transisi energi, sekaligus menurunkan intensitas emisi gas rumah kaca pada portofolio bisnis pembangkitan listrik milik perseroan.

“Langkah ini merupakan bukti nyata komitmen Perseroan dalam mendukung ketahanan energi nasional, mengurangi emisi karbon, dan mempercepat transisi menuju masa depan energi yang lebih bersih,” tutup Eko.

Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini