EBuzz – Presiden Prabowo Subianto menyampaikan secara langsung dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 tersebut dalam Rapat Paripurna Ke-19 DPR RI Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026 di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Dalam dokumen tersebut, Prabowo menargetkan asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak pada rentang Rp16.800 hingga Rp17.500.
Target indikator makro tersebut dirancang di tengah kondisi volatilitas pasar spot domestik, di mana mata uang Garuda sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di posisi Rp17.706 per dolar AS pada penutupan perdagangan pertengahan Mei 2026.
Baca Juga : Fondasi Ekonomi RI Makin Solid, Menkeu Purbaya Yakin IHSG Tembus 10.000 di 2026
“Strategi fiskal dan moneter kita haruslah strategi yang mampu untuk menjaga nilai tukar kita tetap stabil terhadap mata uang dunia,” tegas Presiden di Gedung Parlemen.
Postur Fiskal dan Komitmen Konsolidasi Defisit

Sementara itu, dari sisi pengelolaan anggaran, Prabowo menjelaskan pendapatan negara pada tahun 2027 ditargetkan mencapai kisaran 11,82% hingga 12,40% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
“Di sisi pengeluaran, belanja negara dialokasikan pada rentang 13,62% hingga 14,80% dari PDB untuk mendanai berbagai program prioritas nasional,” terangnya.
Melalui rincian pendapatan dan belanja tersebut, pemerintah menetapkan defisit APBN 2027 berada di kisaran 1,80% hingga maksimal 2,40% dari PDB. Target ini merefleksikan komitmen konsolidasi fiskal untuk menekan rasio defisit anggaran secara bertahap, setelah pada realisasi APBN tahun anggaran 2025 defisit berhasil ditekan ke level 2,92% dari PDB, atau berada 0,08% di bawah ambang batas (threshold) legal sebesar 3% dari PDB.
“Pemerintah mengharapkan kombinasi stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi makro ini dapat memberikan dampak instan pada sektor riil, terutama dalam menekan angka kemiskinan ke rentang 6,0% hingga 6,5%, serta menurunkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) ke kisaran 4,30% hingga 4,87% pada periode 2027 mendatang,” ucap Presiden.
Harga Minyak Dunia

Sedangkan, dari pasar surat utang, tingkat imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun dipatok bergerak pada rentang 6,5% hingga 7,3%. Melalui pengelolaan postur fiskal yang berkelanjutan, pemerintah mengonfirmasi optimisme terhadap laju pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan mampu bertumbuh pada kisaran 5,8% hingga 6,5% pada 2027, sebagai pijakan menuju target pertumbuhan 8% pada tahun 2029.
Baca Juga : Prabowo Kumpulkan Menteri, Bahas Strategi Hemat Energi Hadapi Gejolak Global
Disisi lain, untuk sektor energi, ketahanan anggaran diproyeksikan bersandar pada asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) di kisaran US$70 hingga US$95 per barel.
“Pagu ini diiringi target lifting minyak bumi sebesar 602 ribu hingga 615 ribu barel per hari (bph), serta lifting gas bumi di rentang 934 ribu hingga 977 ribu barel setara minyak per hari (bsmph),” tutupnya.
Melalui agenda ini, Presiden Prabowo tercatat menjadi Kepala Negara pertama yang menyampaikan pendahuluan RAPBN mencakup kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal secara langsung di hadapan anggota dewan.

