EBuzz – Pjs. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menyampaikan bahwa proses demutualisasi diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi bursa.
Menurutnya, nilai tambah tersebut dapat berupa tambahan investasi, penguatan teknologi, maupun perluasan potensi pasar yang dibawa oleh pemegang saham baru.
![]()
“Dengan masuknya pemegang saham baru, kapasitas BEI dinilai dapat meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan yang selama ini berjalan secara organik,” kata Jeffrey saat Konfrensi Pers di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (3/3/2026). (4/3).
Ia menjelaskan bahwa selama ini BEI berkembang melalui pertumbuhan internal. Melalui skema demutualisasi, diharapkan terdapat akselerasi pertumbuhan seiring dengan dukungan modal, teknologi, serta jaringan yang lebih luas dari pemegang saham baru.
“Demutualisasi disebut sebagai salah satu langkah strategis dalam memperkuat struktur dan daya saing bursa di tingkat global,” pungkasnya.
DPR Dorong Percepatan Demutualisasi

Sementara itu, Ketua Komisi XI DPR RI Fraksi Partai Golkar Mukhamad Misbakhun mengatakan, demutualisasi ditujukan untuk memperkuat tata kelola dan transparansi di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Menurutnya, mekanisme dan sistem pelaksanaan demutualisasi masih dalam tahap perumusan, termasuk terkait struktur kepemilikan dan calon pemegang saham baru.
“Negara perlu memiliki porsi yang memadai dalam struktur tersebut untuk kepentingan nasional, tanpa harus terlibat aktif dalam pengelolaan. Kehadiran negara diharapkan memberi pengaruh positif terhadap penguatan iklim investasi,” kata Misbhakun saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Dirinya mendorong agar proses demutualisasi dipercepat sebagai bagian dari restrukturisasi pasar modal. Selain demutualisasi, DPR juga menyinggung agenda lain seperti peningkatan porsi saham beredar (floating share) dan sejumlah pembenahan di pasar saham. Ia menyampaikan kemungkinan proses tersebut dapat berlangsung pada kuartal II-2026.
“Mudah-mudahan,” singkatnya.

