EBuzz – Harga minyak dan gas global melonjak tajam pada perdagangan Senin (2/3/2026), menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Serangan balasan Teheran memicu gangguan pada fasilitas energi utama serta jalur distribusi strategis di kawasan tersebut.
Mengutip laporan Reuters, lonjakan harga dipicu penutupan sejumlah fasilitas minyak dan gas di kawasan Teluk, serta terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan energi global setiap hari.

Minyak mentah berjangka Brent sempat melesat hingga 13% ke level USD82,37 per barel tertinggi sejak Januari 2025 sebelum ditutup naik USD4,87 atau 6,7% ke posisi USD77,74 per barel. Penguatan berlanjut dalam perdagangan pasca-penutupan setelah Garda Revolusi Iran memperingatkan potensi ancaman terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik USD4,21 atau 6,3% menjadi USD71,23 per barel, setelah sempat melonjak lebih dari 12% ke USD75,33 ke level tertinggi sejak Juni tahun lalu.
Vice Chairman S&P Global, Daniel Yergin, menyebut pasar kini fokus pada tiga variabel utama yakni besaran pasokan yang hilang, durasi gangguan, serta respons negara-negara produsen utama.
“Eskalasi meningkat setelah Arab Saudi menutup kilang minyak domestik terbesarnya akibat serangan drone, sementara Qatar menghentikan produksi gas alam cair (LNG). Perusahaan energi negara, QatarEnergy, dilaporkan tengah mempertimbangkan penetapan force majeure atas pengiriman LNG,” kata Daniel dalam keterangannya, Senin (2/3/2026). (3/3).
Dampak Konflik Timur Tengah

Sementara Analis Global X, Kenny Zhu, menilai meski arah konflik masih belum pasti, dampak jangka pendeknya jelas di mana volatilitas tinggi di pasar energi global serta potensi perubahan jalur distribusi minyak dan gas dunia.
Menurutnya, dampak langsung mulai terasa di tingkat konsumen. Harga bensin ritel di AS menembus USD3 per galon untuk pertama kalinya sejak November, sementara harga solar rendah sulfur mencapai USD2,90 merupakan yang tertinggi dalam dua tahun.
“Pasokan global sejauh ini dinilai masih relatif memadai. Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan produksi dari Amerika Serikat, Guyana, dan OPEC+ masih akan melampaui pertumbuhan permintaan tahun ini. OPEC+ bahkan menyepakati peningkatan output sebesar 206.000 barel per hari mulai April, meski sebagian besar produsen telah beroperasi mendekati kapasitas maksimum,” tegasnya.
Sedangkan Goldman Sachs mencatat stok minyak global mencapai 7,827 miliar barel cukup untuk memenuhi sekitar 74 hari permintaan mendekati rata-rata historis.
Dari sisi gas, harga di Amerika Serikat naik lebih moderat. Kontrak gas alam AS menguat 3,5% ke USD2,96 per mmBtu. Sebaliknya, harga gas di Eropa melonjak sekitar 40% ke 44,51 euro per MWh, sementara LNG Asia melesat hampir 39% menjadi USD15,068 per mmBtu.

