Rupiah Makin Lemah, Tembus Rp18.100 per Dolar

EBuzz – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan pada perdagangan Kamis (9/7/2026). Mengutip data Bloomberg pukul 12.05 WIB, rupiah di pasar spot melemah 0,48% ke level Rp18.101 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif sehari sebelumnya, Rabu (8/7/2026), saat rupiah ditutup melemah 0,19% secara harian ke posisi Rp18.014 per dolar AS.

Perjalanan Rupiah Sejak Awal Tahun: Naik-Turun Sepanjang 2026

Kalau ditarik dari awal tahun, perjalanan rupiah sebenarnya sudah penuh gejolak. Rupiah sempat berada di level cukup kuat pada penutupan akhir 2025, yakni sekitar Rp16.680 per dolar AS. Memasuki awal Januari 2026, tekanan global langsung muncul dan mata uang Garuda melemah ke kisaran Rp16.725.

Tekanan berlanjut hingga pertengahan Januari, dengan rupiah sempat mendekati level psikologis Rp17.000, bahkan mendekati rekor terlemah sepanjang sejarah di kisaran Rp16.960 per dolar AS. Sentimen saat itu banyak dipengaruhi ketidakpastian arah kebijakan The Fed serta kekhawatiran independensi bank sentral AS.

Memasuki akhir Januari, rupiah sempat berbalik menguat ke level Rp16.733 seiring pelemahan indeks dolar global dan ekspektasi The Fed menahan suku bunga. Namun penguatan ini tak bertahan lama. Memasuki pertengahan tahun, tepatnya akhir Mei 2026, rupiah kembali terkoreksi tajam hingga mendekati Rp17.900 per dolar AS, mencatatkan pelemahan year-to-date sekitar 6,7% — salah satu yang terdalam di antara mata uang Asia lain seperti won Korea Selatan dan peso Filipina. Tekanan saat itu dipicu kombinasi eskalasi konflik Timur Tengah, capital outflow dari pasar negara berkembang, serta ekspektasi suku bunga tinggi The Fed yang bertahan lebih lama dari perkiraan.

Baca Juga PRDL Auto Cuan Abis IPO, Target Growth Double Digit di 2026

Kini, memasuki Juli 2026, tekanan tersebut semakin menjadi-jadi hingga rupiah akhirnya menembus level Rp18.100 per dolar AS — level terlemah sepanjang tahun berjalan. Sejumlah ekonom menilai kondisi ini sebagai sinyal peringatan dini atas meningkatnya tekanan terhadap APBN, terutama mengingat dalam struktur anggaran saat ini pelemahan nilai tukar cenderung lebih cepat mengerek belanja negara dibandingkan penerimaan. Situasi ini pada akhirnya membuat ruang gerak fiskal pemerintah semakin terbatas.

Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini