RAPBN 2027: Bahlil Usulkan Subsidi Listrik Rp117,84 Triliun

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengusulkan anggaran subsidi listrik dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 sebesar Rp117,84 triliun.

RAPBN 2027: Bahlil Usulkan Subsidi Listrik Rp117,84 Triliun
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia
Bacakan Artikel

EBuzz - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengusulkan anggaran subsidi listrik dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 sebesar Rp117,84 triliun.

Nilai tersebut meningkat dibandingkan anggaran subsidi listrik dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar Rp100,83 triliun.

"Kami juga melaporkan kepada pimpinan dan seluruh anggota Komisi XII bahwa usulan subsidi listrik pada RAPBN 2027 sebesar Rp117,84 triliun," ujar Bahlil dalam Rapat Kerja dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (31/8/2026). (1/9).

Realisasi Subsidi Listrik

Bahlil mengatakan usulan subsidi listrik tersebut disusun berdasarkan sejumlah asumsi makro. Salah satunya harga patokan minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sebesar USD75 per barel, naik dari asumsi APBN 2026 sebesar USD70 per barel.

Selain itu, pemerintah menggunakan asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS, meningkat dari asumsi 2026 sebesar Rp16.500 per dolar AS, serta inflasi sebesar 2,5%.

"Jadi, kalau harganya naik, asumsi naiknya menjadi 80 dolar AS per barel ICP, maka ada kemungkinan penambahan subsidi. Termasuk nilai tukar. Ya, berdoa saja mudah-mudahan nilai tukar tidak terlalu banyak terkoreksi," katanya.

Berdasarkan paparan Bahlil, realisasi subsidi listrik yang telah dibayarkan hingga Juni 2026 mencapai Rp46,36 triliun. Sementara itu, tagihan subsidi listrik Juli 2026 sebesar Rp8,12 triliun dan koreksi triwulan I-2026 sebesar Rp1,21 triliun masih dalam proses verifikasi Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan.

Selain subsidi listrik, pemerintah juga mengusulkan peningkatan volume solar bersubsidi pada RAPBN 2027 menjadi 19 juta kiloliter (kl), dari kuota APBN 2026 sebesar 18,64 juta kl. Volume minyak tanah bersubsidi juga diusulkan naik menjadi 0,561 juta kl pada 2027 dari 0,53 juta kl pada 2026.

"Seperti kita ketahui bersama bahwa di Indonesia ini tidak semuanya memakai LPG. Masih di wilayah timur itu masih pakai minyak tanah. Di Maluku, di Papua, di beberapa wilayah Sulawesi, itu masih pakai minyak tanah. Jadi kalau volume minyak tanah ini kita naikkan, memang ada argumentasi-argumentasi keadilannya," ungkap Ketua Umum Golkar.

Baca Juga : Bahlil: Investasi PLTS 100 GWp Tembus Rp1.140 Triliun

Sementara itu, pemerintah tidak mengusulkan penambahan kuota LPG 3 kilogram. Volume LPG 3 kg dalam RAPBN 2027 diusulkan tetap sebesar 8 juta metrik ton. Adapun subsidi minyak solar tetap diusulkan sebesar Rp1.000 per liter.

"Berdasarkan realisasi sampai dengan Juli 2026, diusulkan volume LPG 3 kg dalam RAPBN tahun 2027 sebesar 8 juta metrik ton," tutupnya.