EBuzz – PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) memimpin konsorsium asuransi untuk proyek gas raksasa Lapangan Abadi Blok Masela. Nilai investasi proyek strategis nasional ini ditaksir mencapai US$20,9 miliar atau setara Rp355 triliun dengan asumsi kurs Rp17.000 per dolar AS.
Tugu Koordinasikan Konsorsium Multi-Asuransi
Direktur Teknik Tugu Insurance, Fadlil Iswahyudi, menjelaskan bahwa keterlibatan perseroan dalam proyek tersebut merupakan bagian dari mandat memberikan proteksi asuransi terhadap proyek strategis nasional yang dikelola PT Pertamina Hulu Energi (PHE). Tugu Insurance memegang peran sebagai leader konsorsium yang beranggotakan beberapa perusahaan asuransi lain di bawah koordinasi SKK Migas.
“Di SKK Migas ada konsorsium asuransi, dan Tugu Pratama menjadi leader-nya. Di dalam konsorsium tersebut ada beberapa perusahaan asuransi lain yang ikut terlibat. Tugas Tugu sebagai leader adalah mengoordinasikan seluruh anggota konsorsium, supaya semuanya bisa berjalan dengan baik,” ujar Fadlil dalam Media Meet Up, Kamis (6/8/2026).
Skala Proyek Tuntut Kapasitas Asuransi Global
Fadlil menilai proyek Blok Masela memiliki tingkat kompleksitas tinggi mengingat skalanya yang sangat besar. Blok Masela berpotensi menjadi salah satu proyek offshore terbesar di dunia, sehingga nilai aset yang harus dilindungi juga membengkak signifikan.
Ia mengungkapkan nilai investasi proyek Masela diperkirakan mencapai lebih dari US$20 miliar hingga US$30 miliar, atau sekitar Rp340 triliun hingga Rp510 triliun. Kapasitas pasar asuransi offshore global saat ini hanya berkisar US$5 miliar hingga US$6 miliar, atau sekitar Rp85 triliun hingga Rp102 triliun, sehingga proyek ini membutuhkan penggabungan kapasitas dari berbagai perusahaan asuransi dan reasuransi dunia.
“Jadi kapasitas dari berbagai perusahaan di seluruh dunia akan dikumpulkan untuk meng-cover proyek Masela. Bisa dibayangkan betapa besarnya proyek ini,” kata Fadlil.
Tugu Insurance menghadapi tantangan mengorkestrasi kapasitas pasar global agar dapat memenuhi kebutuhan perlindungan proyek tersebut. Perseroan juga harus memastikan terms and conditions yang sesuai kebutuhan klien dengan premi yang kompetitif dan berkelanjutan.
Proyek Melewati Perjalanan Hampir 30 Tahun
Pemerintah telah melakukan peletakan batu pertama proyek Lapangan Abadi Blok Masela pada 16 Juli 2026. Momen tersebut menjadi tonggak penting setelah proyek strategis nasional ini melewati perjalanan panjang hampir 30 tahun sejak kontrak awal ditandatangani pada 1998.
Nilai investasi Masela yang mencapai Rp355 triliun menjadikannya salah satu proyek migas terbesar yang tengah dikembangkan di Indonesia saat ini. PT Pertamina Hulu Energi melalui PT Pertamina Hulu Energi Masela bersama PETRONAS Masela Sdn Bhd telah mengakuisisi 35% participating interest (PI) milik Shell Upstream Overseas Services (I) Limited.
Transaksi akuisisi tersebut membuat PHE Masela resmi mengelola 20% PI, sementara PETRONAS Masela menguasai 15% PI di Blok Masela.
Baca Juga Laba Hermina (HEAL) Susut 14% meski Pendapatan Tumbuh 6,5%
Cadangan Gas Laut Dalam Terbesar di Indonesia
Lapangan Abadi merupakan lapangan gas laut dalam dengan cadangan terbesar di Indonesia, berlokasi sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena, Laut Arafura. Lapangan ini terletak pada kedalaman laut 400 hingga 800 meter dan memiliki kontrak Production Sharing Contract (PSC) yang berlaku hingga 2055.
Berdasarkan rencana pengembangannya, Lapangan Abadi berpotensi memproduksi Liquefied Natural Gas (LNG) sebesar 9,5 juta metrik ton per tahun (MMTPA) serta gas pipa sebesar 150 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD). Lapangan tersebut juga diperkirakan mampu menghasilkan kondensat hingga 35.000 barel per hari, menegaskan posisinya sebagai proyek migas strategis dengan dampak ekonomi jangka panjang bagi Indonesia.

