EBuzz – Bursa Efek Indonesia (BEI) kian mantap mengarahkan strateginya untuk memperkokoh posisi pasar modal tanah air sebagai hub investasi unggulan di kawasan regional.
Bukan sekadar mengejar angka Initial Public Offering (IPO), BEI kini menaruh fokus utama pada peningkatan kualitas emiten melalui ekosistem yang terintegrasi, dari tahap pre-IPO hingga post-IPO.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, menegaskan bahwa daya saing bursa tidak bisa dilepaskan dari kesiapan perusahaan sebelum dan sesudah melantai di bursa.
“Kami ingin perusahaan melihat pasar modal Indonesia bukan hanya tempat untuk mencari pendanaan, tapi sebagai mitra utama untuk bertumbuh jangka panjang,” ujar Saidu saat ditemui di Gedung BEI, Kamis (9/7/2026). (10/7).
Strategi Inisiatif BEI

Untuk menarik minat perusahaan berkualitas, Saidu menambahkan, BEI kini menggenjot sejumlah inisiatif strategis yakni penguatan pre IPO. Di mana, fokus pada kesiapan perusahaan sesuai segmen pasar, penyederhanaan proses pencatatan, hingga membangun konektivitas proaktif antara perusahaan prospektif dengan calon investor.
Selain itu, melalui strategi post IPO value creation. Dalam hal ini, BEI memberikan dukungan penuh agar emiten mampu menciptakan nilai tambah melalui penguatan tata kelola (Good Corporate Governance), optimalisasi hubungan investor, serta strategi pertumbuhan jangka panjang.
“Strategi end-to-end ini diharapkan mampu mendongkrak kepercayaan investor, yang pada akhirnya akan memperkuat daya tarik Indonesia di mata investor global,” tegasnya.

Saidu mengungkapkan, BEI juga berupaya untuk memperkuat positioning Indonesia dengan membangun konektivitas dengan bursa regional. Sebagai tindak lanjut dari MoU yang telah ditandatangani pada tahun 2024, tahun lalu BEI meluncurkan Unsponsored Depositary Receipts Linkage bersama dengan SGX Group untuk memperluas basis investor dan meningkatkan visibilitas dari Perusahaan Tercatat di panggung global.
Baca Juga : BEI Buka Opsi Pangkas Target IPO di 2026
“BEI juga bekerja sama dengan HKEX melalui MoU yang ditandatangani pada tahun 2024 untuk meningkatkan konektivitas dan peluang investasi antara pasar Indonesia dan Hong Kong,” imbuh Saidu.

