EBuzz – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada delapan perusahaan yang saat ini berada dalam daftar antrean (pipeline) untuk menggelar aksi korporasi penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).
Hingga kini, tercatat baru satu perusahaan yang resmi melangsungkan IPO dengan total perolehan dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp306 miliar. Aksi korporasi tersebut menggenapkan jumlah total perusahaan tercatat di pasar modal Indonesia menjadi sebanyak 957 emiten sampai saat ini.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, otoritas bursa secara konsisten terus melakukan peninjauan terhadap kelayakan dokumen dan kesiapan dari para calon emiten tersebut sebelum secara resmi melantai di pasar sekunder.
“Hingga saat ini, terdapat delapan perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujar Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (29/6/2026).
Baca Juga : Lolos dari Aturan Baru, BEI Jamin Free Float IPO RANS 28,85 Persen
Lebih lanjut Nyoman mengungkapkan, mayoritas calon emiten yang masuk dalam daftar antrean IPO periode ini didominasi oleh korporasi dengan kapasitas modal yang kuat. Di mana, terdapat enam perusahaan memiliki aset dengan skala besar di atas Rp250 miliar.

Sementara itu, sisa antrean lainnya diisi oleh satu perusahaan beraset skala menengah dengan rentang nilai antara Rp50 miliar sampai Rp250 miliar, serta satu perusahaan beraset skala kecil dengan nilai di bawah Rp50 miliar.
“Klasifikasi pengelompokan skala aset korporasi tersebut merujuk pada regulasi yang tertuang dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 53/POJK.04/2017,” ungkapnya.
Menurutnya, jika dilihat dari sektoral, industri kesehatan menjadi sektor yang paling agresif melakukan ekspansi lewat jalur pasar modal.
“Secara rincian, dari delapan perusahaan dalam pipeline tersebut, sebanyak empat perusahaan berasal dari sektor kesehatan, dua perusahaan dari sektor barang konsumen primer, satu perusahaan dari sektor barang konsumen non-primer, dan satu perusahaan dari sektor infrastruktur,” kata Nyoman.
Penerbitan EBUS dan Tren Aksi Rights Issue

Selain dari instrumen ekuitas, korporasi di dalam negeri juga aktif memanfaatkan instrumen surat utang untuk memenuhi kebutuhan ekspansi dan pembiayaan kembali (refinancing). Berdasarkan data BEI, untuk penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) telah mencapai 71 emisi yang diterbitkan oleh 43 emiten.
Melalui penerbitan EBUS tersebut, total dana segar yang berhasil dihimpun pasar menyentuh angka Rp76,09 triliun hingga akhir Juni 2026. Adapun untuk aktivitas penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue, bursa mencatat sudah ada empat perusahaan yang sukses mengeksekusi aksi korporasi tersebut sepanjang tahun berjalan. Total nilai penghimpunan dana dari skema rights issue itu mencapai Rp3,89 triliun.
“Saat ini terdapat 48 emisi dari 33 penerbit EBUS yang sedang berada dalam antrean dokumen untuk melangsungkan penerbitan emisi baru dari lintas sektor industri,” ucapnya.
Baca Juga : Gelar IPO, Penyedia Genset Bach Multi Global (BACH) Incar Dana Rp307,5 Miliar
Ke depannya, otoritas bursa menyatakan masih mengantongi satu perusahaan lagi yang masuk dalam daftar antrean untuk menggelar aksi rights issue, di mana calon emiten tersebut berasal dari sektor properti dan real estate.

