Emiten HSC Dibuang MSCI dan FTSE Russell, Bos BEI Sebut Konsekuensi Jangka Pendek

EBuzz – Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai kebijakan penyedia indeks global, seperti MSCI dan FTSE Russell, yang mendepak emiten berkategori High Shareholding Concentration (HSC) dari konstituennya merupakan langkah yang sudah diantisipasi oleh pasar.

Kebijakan restrukturisasi indeks tersebut dipandang sebagai konsekuensi jangka pendek demi mencapai transparansi pasar modal domestik yang lebih sehat dalam jangka panjang.

Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan bahwa setiap penyedia indeks global memiliki metodologi dan standarisasi tersendiri dalam menyaring saham acuan. Langkah mengeluarkan emiten dengan konsentrasi kepemilikan tinggi ini sebelumnya juga telah diterapkan di yurisdiksi pasar modal negara lain.

“Termasuk apa yang sudah mereka lakukan di yurisdiksi lain seperti di Hong Kong, bahwa saham-saham yang masuk ke dalam High Shareholding Concentration akan dikeluarkan baik dari MSCI maupun FTSE. Jadi, memang itu sesuatu yang harusnya sudah diantisipasi oleh pasar,” kata Jeffrey di Gedung BEI, Senin (18/5/2026). (19/5).

Keputusan MSCI dan FTSE Russell Jadi Kepastian

 

Meskipun memicu tekanan jangka pendek, Jeffrey menegaskan bahwa kejelasan sikap dari MSCI dan FTSE justru memberikan kepastian hukum yang positif bagi para pelaku pasar.

“Ini sekaligus menjawab spekulasi dan ketidakpastian yang berkembang di pasar selama beberapa minggu terakhir terkait respons lembaga indeks global terhadap program reformasi tata kelola yang diinisiasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO),” ungkapnya.

Lebih lanjut dirinya memproyeksikan, strategi reformasi pasar modal ini akan menjadi daya tarik yang kuat bagi pemodal internasional pada jangka menengah dan panjang. Dengan meningkatnya aspek transparansi serta implementasi tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG), nilai investasi asing yang masuk ke pasar saham Indonesia ke depan diyakini akan jauh lebih besar.

Baca Juga : IHSG Ambles ke Posisi Terendah Era Pandemi, Ini Respons Bos Bursa

“Untuk jangka menengah dan jangka panjangnya, tentu kita harapkan inflow yang akan jauh lebih besar dari investor asing setelah melihat pasar Indonesia sudah menjadi pasar yang lebih transparan dengan tata kelola yang lebih baik. Partisipasi dari investor asing justru akan jauh lebih tinggi dari sebelum-sebelumnya,” pungkas Jeffrey.

Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini