Dapat Restu Prabowo, BI Siapkan 7 Strategi Jaga Stabilitas Rupiah

EBuzz – Presiden Prabowo Subianto telah memberikan lampu hijau terhadap tujuh strategi yang disusun Bank Indonesia (BI) guna memperkokoh nilai tukar rupiah. Langkah darurat ini diambil setelah mata uang Garuda dinilai mengalami pelemahan (undervalue) dalam beberapa waktu terakhir.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa koordinasi ini dilakukan dalam rapat terbatas bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Istana Merdeka. Adapun 7 strategi tersebut diantaranya yakni, intervensi masif di pasar valas, penarikan modal lewat SRBI, borong SBN di pasar sekunder, hingga menjaga likuiditas perbankan.

“Kami melaporkan kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden merestui dan kemudian memberikan suatu penguatan-penguatan tujuh langkah penting yang ditempuh Bank Indonesia untuk membuat rupiah kuat, membuat rupiah itu stabil ke depan,” ujar Perry di Istana Merdeka, Selasa (5/5/2026). (6/5).

Baca Juga : Thomas Djiwandono Resmi Dilantik sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia

Perry menambahkan, strategi yang pertama, Bank Indonesia terus memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik di dalam negeri maupun di luar negeri untuk menjaga nilai tukar rupiah kembali stabil.

“Cadangan devisa kami lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah itu,” tegasnya.

Jaga Likuiditas Perbankan

Bank Indonesia (BI) kata Perry, berupaya menarik aliran modal masuk (inflow) melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Selain itu, BI juga akan borong SBN di pasar sekunder. Menurutnya, koordinasi erat antara kebijakan fiskal dan moneter dilakukan melalui pembelian Surat Berharga Negara (SBN).

“Kami bersepakat untuk sementara ini SRBI dibuat perlu inflow sehingga inflow-nya SRBI bisa mencukupi aliran keluarnya (outflow) SBN dan saham. Itu koordinasi kami dengan Pak Menteri Keuangan sehingga betul-betul menjaga inflow-nya dari portofolio asing itu masih dari awal tahun hingga saat ini (year to date) masih terjadi inflow itu dan memperkuat nilai rupiah,” jelas Perry.

Lebih lanjut dirinya menambahkan, Bank Indonesia juga memiliki strategi untuk menjaga likuiditas perbankan. Di mana, BI bersama Kementerian Keuangan memastikan likuiditas di perbankan tetap longgar.

Bahkan, BI akan membuat aturan main pembelian dolar tanpa aset fisik (underlying) diperketat secara signifikan. Semula, batas maksimal pembelian adalah 100.000 dolar AS, namun kini dipangkas menjadi 50.000 dolar AS per orang per bulan.

“Kami persiapkan, kami akan turunkan lagi menjadi 25.000 sehingga pembelian dolar sampai dengan atau di atas 25.000 itu harus pakai underlying,” katanya.

Selain itu, Bank Indonesia juga akan melakukan intervensi pasar offshore guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan mengizinkan bank domestik untuk aktif dalam transaksi di luar negeri guna menambah pasokan valas.

Baca Juga : Bank Indonesia : Cadangan Devisa RI Turun ke US$151,9 Miliar pada Februari 2026

Menurutnya, BI memperketat pengawasan terhadap aktivitas pembelian dolar yang mencurigakan atau bervolume tinggi dengan menggandeng Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Yang terutama, kami lihat bank-bank korporasi yang aktivitas pembelian dolar tinggi, kami kirim pengawas ke sana, koordinasi dengan Bu Frederika Widyasari Ketua OJK untuk memastikan bagaimana stabilitas sistem keuangan terjaga,” ucap Gubernur BI.

Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini