EBuzz – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS), melalui anak usahanya PT Pertamina Gas (Pertagas), memiliki rencana untuk melakukan ekspansi ke lini bisnis baru dengan klasifikasi KBLI 20112, yaitu Industri Gas Industri. Langkah ini mencakup pembangunan fasilitas produksi bahan kimia dasar, termasuk pengembangan hydrogen plant.
Penambahan kegiatan usaha ini merupakan manuver strategis untuk memperkuat portofolio bisnis sekaligus mendukung transisi energi hijau melalui kajian studi yang dilakukan. Proyek ini diproyeksi bisa menjadi mesin pendapatan baru perseroan.
Berdasarkan hasil kajian studi, manajemen PGAS menyampaikan, proyek ini memiliki prospek positif dan layak secara bisnis untuk memperkuat posisi PGAS sebagai induk usaha di sektor energi nasional.
Untuk merealisasikan pembangunan fasilitas bahan kimia dasar tersebut, perseroan membutuhkan total investasi sebesar US$16,31 juta atau sekitar Rp260 miliar.
“Keseluruhan berasal dari dana internal,” tulis manajemen dalam keterangan tertulisnya, Rabu (15/4/2026). (16/4).
Nilai Tambah

Menurut manajemen, proyek ini diproyeksikan menghasilkan Net Present Value (NPV) sebesar USD1,68 juta. Selain itu, Internal Rate of Return (IRR) tercatat sebesar 10,88 persen, angka yang berada di atas biaya modal atau Weighted Average Cost of Capital (WACC) sebesar 9,07 persen.
“Proyek ini memiliki estimasi Payback Period selama 10 tahun 7 bulan, sementara Discounted Payback Period diprediksi mencapai 17 tahun 6 bulan. Indikator lainnya, yakni Profitability Index, tercatat sebesar 1,13 kali, yang mengindikasikan bahwa rencana usaha baru ini berpotensi memberikan nilai tambah serta meningkatkan potensi pendapatan dan profitabilitas perseroan dalam jangka panjang,” pungkasnya.
Baca Juga : Direktur PGN Tambah Kepemilikan Saham, Catur Dermawan Borong 19.000 Saham PGAS
Guna melancarkan aksi korporasi ini, PGAS dijadwalkan akan meminta persetujuan para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 22 Mei 2026 mendatang.

