EBuzz – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menetapkan tahun 2026 sebagai periode krusial fase turnaround kinerja perusahaan.
Hal ini merupakan sebuah langkah strategis yang didorong oleh pemulihan kapasitas produksi secara bertahap dan penguatan struktur permodalan yang masif.
Direktur Utama Glenny Kairupan mengatakan bahwa, melalui dukungan pendanaan berupa shareholder loan dan capital injection dari Danantara pada tahun 2025 dengan nilai total mencapai Rp23,7 triliun, posisi ekuitas GIAA berhasil berbalik positif menjadi US$91,9 juta per 31 Desember 2025, melonjak drastis dari posisi negatif US$1,35 miliar di tahun sebelumnya.

Di mana, alokasi dana tersebut difokuskan pada percepatan reaktivasi armada dan penyelesaian kewajiban entitas anak, Citilink, kepada Pertamina. Secara terperinci, Rp15 triliun atau sekitar 64% dialokasikan untuk Citilink, sementara Garuda Indonesia mengantongi Rp8,7 triliun untuk kebutuhan pemeliharaan armada yang diproyeksikan terus dioptimalkan hingga akhir 2026.
“Hal ini mendongkrak posisi kas dan setara kas perseroan menjadi US$943,4 juta pada akhir 2025,” kata Glenny dalam keterangan tertulisnya. (17/3).
Operasional Maskapai

Di bawah payung besar Garuda Indonesia Group, Glenny menegaskan, maskapai pembawa bendera negara ini menargetkan kesiapan sedikitnya 118 armada pada akhir tahun 2026 sebagai tulang punggung operasional.
Langkah ini mencakup rangkaian heavy maintenance airframe check pada armada Boeing 737-800NG, Boeing 777-300ER, dan Airbus A330, serta overhaul komponen utama seperti mesin, APU, dan landing gear.
“Garuda Indonesia menargetkan pengoperasian 68 pesawat serviceable dan Citilink sebanyak 50 pesawat pada akhir 2026,” tegasnya.
Baca Juga : Garuda Indonesia Buka Kantor Penjualan Baru di Gedung BUMN Jakarta
Glenny menambahkan, strategi besar ini dirangkum dalam 11 pilar transformasi, mulai dari optimalisasi jaringan rute, transformasi platform digital, keunggulan revenue management, hingga peningkatan pengalaman pelanggan.
“Dengan integrasi dukungan pemegang saham dan eksekusi transformasi yang disiplin, Garuda Indonesia Group memproyeksikan tahun 2026 sebagai titik balik untuk mencapai pertumbuhan yang lebih solid dan berkelanjutan di tengah dinamika industri penerbangan global,” pungkas Glenny.
Sementara itu jika melihat ke belakang pada tahun buku 2025, emiten berkode saham GIAA ini mencatatkan pendapatan usaha konsolidasi sebesar US$3,22 miliar.

Angka tersebut menunjukkan koreksi sebesar 5,9% dibandingkan tahun sebelumnya, yang merefleksikan fase konsolidasi operasional demi memperkokoh fundamental bisnis.
Baca Juga : Konflik Iran–AS Memanas, Garuda Indonesia Tangguhkan Penerbangan ke Doha
Penurunan kinerja ini tidak lepas dari terbatasnya kapasitas produksi pada semester I-2025, di mana sejumlah pesawat masih dalam status unserviceable untuk menunggu jadwal pemeliharaan.
Kondisi ini, ditambah dengan fluktuasi kurs serta peningkatan biaya tetap akibat intensitas program pemulihan servisibilitas armada, membawa perseroan mencatatkan rugi bersih sebesar US$319,39 juta pada periode tersebut.

