Lion Metal Works Masih Konsolidasi, Siapkan Strategi Efisiensi dan Target Kinerja 2026

EBuzz – PT Lion Metal Works Tbk (LION) masih berada dalam fase konsolidasi bisnis di tengah ketatnya persaingan industri manufaktur.

Manajemen menyampaikan bahwa kinerja perseroan dalam beberapa periode terakhir tertekan oleh penurunan penjualan, masuknya produk impor dari Tiongkok, serta fluktuasi harga bahan baku baja yang belum stabil.

Dalam paparan publik yang disampaikan Senin (16/2/2026), Direktur LION Lawer Supendi menjelaskan pada 2024 perseroan sempat mencatat kinerja lebih baik berkat pesanan produk cable ladder.

Namun, kontribusi segmen tersebut kembali melemah sepanjang 2025 seiring turunnya permintaan, sehingga perusahaan bersikap lebih hati-hati dalam mengatur volume produksi dan strategi penjualan.

Meski menghadapi tekanan usaha, kondisi likuiditas dan arus kas LION tetap aman.

Baca juga: DSSA Gelar RUPSLB 11 Maret 2026, Minta Restu Stock Split 1:25

“Penurunan total aset secara tahunan lebih disebabkan oleh penurunan liabilitas dan pembayaran dividen, bukan karena masalah kas. Kami tidak memiliki masalah likuiditas maupun arus kas,” ungkap Lawer.

Untuk memperkuat struktur bisnis, LION juga mengupayakan penjualan lahan industri melalui anak usaha PT Singa Purwakarta Jaya. Lahan seluas sekitar 100 hektare di kawasan industri Lion, Purwakarta, ditawarkan dengan harga pasar dan mempertimbangkan pengembangan infrastruktur kawasan.

“Dana hasil penjualan aset tersebut akan digunakan untuk mendukung keberlanjutan usaha Perseroan,” ujar dia.

Memasuki 2026, LION menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mendorong kinerja. Fokus diarahkan pada optimalisasi Divisi Cable Ladder, Fire Door, dan Racking melalui penerapan sistem produksi 2-way dan 4-way guna meningkatkan efisiensi biaya. Perseroan juga mulai mengadopsi teknologi automatic racking melalui kerja sama dengan mitra dari Tiongkok.

Dia menargetkan pendapatan sekitar Rp468 miliar pada 2026 dengan laba bersih diproyeksikan mencapai Rp20,8 miliar. Namun, pencapaian target tersebut tetap bergantung pada kondisi ekonomi global dan pasar domestik.

Dari sisi belanja modal (capex), LION mengalokasikan dana sekitar Rp2–5 miliar pada tahun ini.

“Capex tersebut akan difokuskan pada digitalisasi lini produksi, termasuk pembelian mesin laser cutting dan pengelasan robotik otomatis, sebagai upaya menekan biaya tenaga kerja jangka panjang sekaligus meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksi,” tukas dia.

Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini