EBuzz – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat kontribusi investor ritel telah mencapai 52 persen dari total rata-rata nilai transaksi harian pasar modal sepanjang 2026 hingga saat ini. Nilai transaksi ritel tercatat sekitar Rp16 triliun per hari.
Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengungkapkan, secara keseluruhan rata-rata nilai transaksi harian bursa sepanjang 2026 ytd berada di kisaran Rp32 triliun per hari. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan rata-rata transaksi harian sepanjang 2025 yang tercatat Rp18,1 triliun per hari.

“Investor asing berkontribusi sekitar 30 persen dari transaksi harian, sementara sisanya berasal dari investor institusi domestik,” ujar Jeffrey dalam acara Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (12/2/2026). (13/2).
Seiring lonjakan aktivitas perdagangan, jumlah investor ritel juga terus bertambah. Hingga 11 Februari 2026, jumlah investor ritel tercatat mencapai 21,3 juta, dengan penambahan 1,3 juta investor baru sejak awal tahun. Sepanjang 2025, total penambahan investor tercatat 5,4 juta.
Di sisi permintaan, BEI menilai prospek tetap kuat. Pertumbuhan jumlah investor ritel yang signifikan, disertai peningkatan aset investor ritel, menjadi penopang utama demand pasar. Selain itu, dukungan kebijakan pemerintah yang membuka ruang lebih besar bagi institusi domestik untuk berinvestasi hingga 20 persen juga diproyeksikan menambah permintaan.
Jeffrey menambahkan, BEI juga terus menjaga kepercayaan investor asing sekaligus mendorong masuknya aliran dana baru dari luar negeri. “Kami berupaya memastikan investor asing tetap bertahan, sekaligus menarik lebih banyak investor global ke pasar kita,” katanya.
Penyesuaian Free Float

Sementara itu, terkait rencana penyesuaian ketentuan free float minimum menjadi 15 persen, BEI mengakui adanya kekhawatiran pasar terhadap potensi tekanan dari sisi pasokan saham. Namun, Jeffrey menegaskan bahwa bursa telah melakukan kajian komprehensif untuk memastikan implementasi kebijakan tersebut tetap terkelola dan tidak mengganggu stabilitas pasar.
Dari total 956 perusahaan tercatat, sebanyak 268 emiten masih memiliki free float di bawah 15 persen. Meski demikian, Jeffrey menyoroti bahwa 49 perusahaan di antaranya mewakili sekitar 90 persen kapitalisasi pasar dari kelompok emiten yang belum memenuhi ketentuan tersebut.
“Fokus kami adalah bagaimana 49 perusahaan ini dapat diatur dengan baik agar pasar tetap seimbang. Karena itu, kami menyediakan hot desk agar emiten bisa berdiskusi mengenai penyesuaian waktu penambahan free float sesuai kondisi pasar,” jelas Jeffrey.
Ke depan, BEI menegaskan akan terus memantau respons pasar terhadap berbagai kebijakan yang diterapkan guna memastikan proses pembentukan harga berjalan efisien, serta menjaga integritas dan transparansi pasar agar perdagangan berlangsung teratur, wajar, dan efisien.

