Vale Indonesia Siapkan Capex Jumbo US$1,1 Miliar di Puncak Ekspansi 2027
EBuzz - PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) hingga US$1,1 miliar setara Rp19,29 triliun pada 2027, dengan asumsi kurs Rp17.540 per dolar AS. Perseroan menetapkan tahun tersebut sebagai periode puncak ekspansi bisnisnya.
Direktur Vale Indonesia Rizky Andhika Putra menjelaskan bahwa perseroan telah mengantongi fasilitas pendanaan siaga atau standby facility berupa sustainability linked loan senilai US$750 juta. Perseroan tetap membuka opsi pendanaan tambahan guna membiayai seluruh rencana ekspansinya.
Rizky memaparkan bahwa kebutuhan capex Vale pada 2026 diperkirakan menembus hampir US$700 juta. Anggaran itu mencakup pengembangan tambang, proyek high pressure acid leach (HPAL), serta kebutuhan sustaining capex.
"Dan nanti peak di 2027, yang akan paling besar dalam masa ekspansi, itu akan mencapai hingga US$1,1 miliar, yang di mana karena tentunya di situ juga terdapat investasi yang cukup besar pada smelter smelter baru kami, yaitu HPAL-nya," kata Rizky dalam public expose secara live, Kamis (10/9/2026).
Perseroan turut menganggarkan capex sekitar US$800 juta pada 2028 untuk mendukung pengembangan proyek HPAL di Sorowako. Emiten tambang nikel pelat merah di bawah naungan holding MIND ID ini menargetkan penyelesaian bertahap seluruh proyek strategisnya hingga akhir dekade.
Target Produksi Nickel Matte Tetap Optimistis
Vale optimistis mampu mencapai target produksi nickel matte sebesar 67.645 metrik ton pada 2026. Kinerja produksi sepanjang semester I 2026 mendukung keyakinan tersebut setelah melampaui rencana produksi sekitar 1%.
Wakil Presiden Direktur Vale Indonesia Abu Ashar mengungkapkan bahwa perbaikan tungku listrik nomor 3 telah rampung pada Juni 2026. Perbaikan ini memperkuat stabilitas operasi perseroan sepanjang semester II 2026.
Abu menambahkan bahwa kadar nikel dari aktivitas pertambangan mencapai 1,82%, level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Kadar nikel yang tinggi ini membuka peluang optimalisasi produksi karena pabrik tidak perlu mengolah volume material yang lebih besar untuk menghasilkan output yang sama.
Baca Juga Antam (ANTM) Cetak Laba Rp6,91 Triliun, Bisnis Emas Jadi Penopang
Perseroan meyakini kondisi pasokan bijih yang baik serta operasi pabrik yang stabil akan memaksimalkan produksi nickel matte pada paruh kedua tahun ini. "Kami sangat optimistis, pekerjaan perbaikan sudah dilakukan, kadar nickel feedingdari mining ke pabrik cukup bagus, operasi di pabrik juga cukup stabil, sehingga kami optimistis di tahun ini untuk mencapai target produksi tahunan 67.645 metrik ton," ujar Abu.