UMKM Binaan IFG Tembus Pasar Lewat Produk Inovatif

EBuzz – Keterlibatan PT Jasa Raharja dalam pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi bagian dari strategi besar Indonesia Financial Group (IFG) sebagai holding BUMN asuransi, penjaminan, dan investasi.

IFG memandang UMKM sebagai fondasi penting pertumbuhan ekonomi nasional yang mampu menggerakkan mata rantai ekonomi dari hulu hingga hilir.

Melalui program pemberdayaan yang dijalankan anak usaha, termasuk Jasa Raharja, IFG mendorong UMKM untuk naik kelas sekaligus memperkuat ekosistem usaha yang saling terhubung antar pelaku ekonomi.

Sekretaris Perusahaan IFG, Denny S Adji, menuturkan bahwa di balik aktivitas UMKM yang terlihat sederhana, terdapat ekosistem ekonomi yang luas dan melibatkan banyak pihak. Dalam satu unit usaha UMKM, terdapat keterkaitan antara petani, pemasok bahan baku, hingga pelaku usaha pendukung lainnya.

“Pada satu usaha kecil, terdapat mata rantai ekonomi yang panjang. Dari petani, pemasok bahan, pengrajin, hingga sektor angkutan. Semua saling terhubung dan saling menghidupi,” ujar Denny. (29/12).

Ia mencontohkan ekosistem usaha aroma terapi yang melibatkan berbagai pelaku, mulai dari petani kapulaga, akar wangi, vanila, hingga pengrajin dan sektor logistik. Menurutnya, meski tidak selalu berskala besar, usaha seperti ini memiliki kontribusi nyata dalam menggerakkan perekonomian.

“Misalnya kapulaga, petaninya berbeda dengan pemasok akar wangi atau vanila. Masing-masing memiliki ekosistem tersendiri yang saling terhubung dan bernilai,” jelasnya.

Ekosistem serupa juga terlihat pada UMKM Jarihitam Ecoprint. Berbasis proses manual dan pemanfaatan dedaunan, usaha ini melibatkan pengrajin, penjahit, hingga masyarakat sekitar sebagai penyedia bahan dan mitra produksi. Produk Jarihitam bahkan telah menembus pasar ekspor, termasuk Rusia.

“Karyanya mampu menembus pasar ekspor hingga Rusia. Awalnya pembeli mengenal produknya dari sepatu, lalu berkembang ke produk lain. Bahan kain dipasok dari Indonesia dan diolah menjadi produk bernilai tambah di luar negeri,” kata Denny.

Menurutnya, keberhasilan UMKM tidak semata diukur dari besaran omzet, melainkan dari dampak berantai atau trickle down effect yang dihasilkan terhadap ekosistem ekonomi di sekitarnya.

“Ukuran UMKM tidak cukup hanya omzet. Yang lebih penting adalah bagaimana usaha tersebut menghidupkan ekosistem dan memberi manfaat luas. Di situlah makna ekonomi sesungguhnya,” tegasnya.

Produk Inovatif UMKM

Founder Jarihitam Ecoprint, Irfan Kristiyanto, membuktikan bahwa bahan sederhana berbasis alam dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi yang diminati pasar global. Sejak berdiri pada 2018, Jarihitam memproduksi kain, pakaian, tas, sepatu, hingga home decor bercorak alam yang diekspor ke Eropa dan Rusia.

Dengan modal awal sekitar Rp25 juta, Irfan bereksperimen selama berbulan-bulan untuk menemukan teknik ecoprint yang tepat. Ia memanfaatkan bahan baku dari lingkungan sekitar sebagai nilai utama produknya.

“Bahan bakunya ada di sekitar kita. Isunya sangat relevan, dan ecoprint tidak akan pernah mati,” ujar Irfan.

Hal senada disampaikan Founder Asta Nusa Warna, Jejen Ahmar Jaenun. Setelah 24 tahun berjalan, perusahaannya mulai fokus mengembangkan produk bernilai tambah berbasis aroma, seperti vanila, cengkeh, kapulaga, dan nilam. Asta Nusa Warna juga mendapatkan pendampingan promosi melalui program aktivasi UMKM Jasa Raharja, anggota Holding IFG.

Saat ini, produk turunan Asta Nusa Warna telah dipasarkan di sekitar delapan hotel di Bandung melalui skema pemasaran yang difasilitasi Jasa Raharja bersama Koperasi Pemasaran Tlatah Nusantara Raya.

Jejen menjelaskan, produksi minyak nilam perusahaan mencapai sekitar 500 kilogram per minggu, dengan sebagian besar diserap pasar ekspor, terutama Amerika Serikat. Tingginya permintaan mendorong perusahaan mengembangkan produk turunan sendiri untuk meningkatkan nilai tambah.

“Nilam adalah unsur utama parfum dunia. Sekitar 85 persen pasokannya berasal dari Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu, Founder Koperasi Pemasaran Tlatah Nusantara Raya, Agus Riki, menyampaikan seluruh UMKM binaan telah dibekali standarisasi agar produk dapat masuk ke jaringan hotel. Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari produksi hingga penyesuaian produk sesuai kebutuhan pasar.

“UMKM kami dampingi agar memenuhi standar hotel, baik dari kualitas maupun karakter produk. Harapannya, ini membuka akses pasar yang lebih luas,” kata Riki.

Melalui strategi tersebut, UMKM binaan diharapkan mampu naik kelas, memperluas jangkauan pasar nasional hingga internasional, serta berkontribusi lebih besar terhadap penguatan ekonomi daerah dan nasional.

Terbaru

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini